Sudahkan Anda Menggunakan Barang-Barang Daur Ulang?

Seandainya pun barang-barang itu rusak atau tidak bisa digunakan lagi, kata Denia mereka masih tetap bisa didaur ulang.

Selasa, 19 Jun 2018 17:34 WIB

Ilustrasi Kampanye Puasa Plastik. (Foto: Antara/Reno Esnir)

Ilustrasi Kampanye Puasa Plastik. (Foto: Antara/Reno Esnir)

KBR, Jakarta - Pernah terpikir apa yang terjadi dengan sikat gigi plastik bekas pakai yang sudah dibuang?  Atau sedotan plastik untuk menikmati segelas es teh manis saat makan siang? Atau botol air plastik yang sudah kosong?

Bisa jadi semuanya menumpuk dan berakhir di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) atau laut. Dan catat, hanya sebagian kecil yang didaur ulang. Data tahun 2015 yang dirilis American Association for The Advancement of Science merilis 10 negara pencemar sampah plastik laut terbesar. Indonesia ada di posisi kedua dengan 1,3 juta ton sampah plastik yang sampai ke laut Indonesia dalam setahun. 

Nah bagaimana ya caranya agar sampah-sampah itu tidak terus bertambah? Bagaimana caranya mulai mengurangi sampah plastik yang kita hasilkan setiap hari?

Denia Isetianti menjawab permasalahan itu dengan mendirikan Cleanomic. Ini adalah sebuah situs yang menyediakan berbagai produk ramah lingkungan. Lewat Cleanomic Denia ingin memujudkan gaya hidup zero waste atau suatu gaya hidup yang sebisa mungkin mengurangi sampah yang kita kirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kata Denia ada beberapa cara untuk melakukannya.

“Mulai dari kita mengurangi penggunaan plastik, lalu kita kompos apa yang bisa kita kompos, terus kita daur ulang apa yang bisa kita daur ulang. Jadi ada 5 R. Itu juga dipelajari sebenarnya tapi kalau secara simpelnya adalah suatu usaha gimana caranya untuk mengurangi sampah,” tuturnya dalam acara KBRPagi Selasa (19/06/2018).

5R itu meliputi Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), Replace (mengganti), dan Replant (menanam kembali).

Denia menjelaskan barang-barang yang dijual di Cleanomic merupakan pengganti dari barang-barang berbahan plastik yang banyak kita gunakan sehari-hari. 

“Misalnya, apa yang kita gunakan setiap hari? Sikat gigi. Jadikan banyak banget plastik kita kasih alternatif lain. Sikat gigi dari bambu. Terus misalnya kantong belanja, kantong belanja biasanya pakai plastik kan, nah kita kasih alternatif lainnya kantong belanja dari blacu. Terus juga sampo atau sabun, kita jual tapi yang nggak pakai kemasan. Terus tempat makan kita kasih tempat makan yang bukan dari plastik tapi dari aluminium,” jelasnya.

Seandainya pun barang-barang itu rusak atau tidak bisa digunakan lagi, kata Denia mereka masih tetap bisa didaur ulang.

“Contoh sikat gigi itu terbuat dari bambu, terus packaging kita banyak terbuat dari kaca. Kaya tas itu kita buat dari kain blacu atau linen yang tidak mengandung bahan plastik. Dan untuk kecantikan misalnya, sampo, sabun atau deodoran, itu semua terbuat dari bahan alami,” tambahnya. 

Anda tertarik untuk mulai mengurangi pemakaian barang dari plastik dan memilih barang-barang yang ramah lingkungan? Info selengkapnya tentang barang-barang yang dijual di Cleanomic bisa dilihat di sini.

Baca juga:

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.