Selamatkan JKN dan Kelompok Miskin: Naikkan Harga Rokok

"Kita khawatir 2045 buka generasi emas yang diciptakan, tapi jadi generasi cemas, karena kalah bersaing.”

Jumat, 22 Jun 2018 14:03 WIB

Prevalensi perokok yang makin meluas menjadi beban anggaran kesehatan pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penyakit akibat rokok mendominasi pasien BPJS. Salah satu yang membuat prevalensi perokok adalah harganya yang murah. 

Menaikkan harga rokok sehingga tak lagi terjangkau oleh kelompok miskin diyakini akan mengurangi prevalensi perokok di kelompok ini, yang pada akhirnya akan memangkas beban JKN. 

Prof Dr Hasbullah Thabrany, MPH, Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI, mengatakan mayoritas perokok itu berasal dari kelompok miskin.

“Kalau kita mau melihat berapa banyak, itu kita dapat melihat survei-survei seperti survei SUSENAS. Tren pada umumnya kelompok-kelompok penduduk, kalau pada laki-laki itu 64-70%. Tapi pada kelompok miskin angkanya di atas 70%, ini yang menyedihkan. Justru kelompok miskin di Indonesia ini sangat generous, sangat royal,” katanya.

Dan kelompok perokok itu juga yang paling banyak mengklaim biaya berobat menggunakan BPJS.   

“Mayoritas peserta yang yang kita sebut sebagai PBPU, Bukan Penerima Upah, jadi punya income sendiri, tukang ojek, Pekerja-pekerja petani, pekerja kasar yang gak punya kantor, juga doyan rokok. Dan akibatnya kalau kita lihat klaimnya di BPJS yang disebut PBPU nih, klaimnya paling tinggi,” ujarnya.

Penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Indonesia mengalami kerugian akibat rokok sebesar Rp 500 triliun per tahun. Kata Hasbullah dari nilai itu, Rp 40 triliun dihabiskan dalam skema BPJS.

Selain membebani keuangan negara, kebiasaan merokok kata Hasbullah juga mengancam kondisi generasi yang berasal dari keluarga perokok. 

“Belum lagi yang lebih parah lagi, karena banyak orang merokok sekarang terbukti mempengaruhi pertumbuhan anak. Pertumbuhan anak itu, bisa menyebabkan anak kerdil, pendek. Kalau kerdil fisik, gak papa, kerdil otaknya, ini yang lebih berbahaya. Kalau kerdil otaknya, maka anak-anak kita tidak bisa jadi sumber daya, tetapi jadi beban masyarakat, beban negara, karena dididik pun susah,” jelasnya.

Bila ini tidak diatasi Hasbullah khawatir generasi yang tercipta adalah generasi cemas bukan generasi emas. 

“Nah kalau kita teruskan kondisi seperti ini, didominasi oleh rokok, rakyat-rakyat yang ekonominya rendah, menghabiskan uang untuk rokok lebih banyak daripada untuk belanja protein, belanja pendidikan, maka masa depan bangsa ini menjadi suram. Kita khawatir 2045 buka generasi emas yang ciptakan, tapi jadi generasi cemas, karena kalah bersaing,” ungkapnya.

Baca juga:

Yurdhina Meilissa dari Planing and Policy Specialist Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) menyebut hanya sekitar 22% pendapatan keluarga yang dibelanjakan untuk makanan bergizi.

“Tadi ada data yang profesor sebut tadi, data IFLS, itu kalau kita lihat tadi Prof ngomong soal nutrisi tadi gitu. Kalau kita lihat 22% per kapita income mingguan masyarakat miskin itu dipakai untuk rokok,” jelasnya. 

Karena itu menurut Hasbullah, salah satu cara untuk menekan jumlah perokok dalam jangka panjang terutama dari kalangan masyakat miskin adalah dengan menaikkan harga rokok.

“Ya dengan kondisi sekarang, salah satu cara yang paling efektif yang terbukti di dunia, telah diuji, adalah menaikkan harga rokok. Kalau harga rokok itu naik, seperti hukum ekonomi, konsumsi akan turun sedikit, tapi tidak berhenti, karena mereka sudah nyandu. Jadi akan ngurangin sedikit, pelan-pelan insyaallah dalam waktu 20-30 tahun akan lebih terkontrol, jadi jangka panjang,” ujarnya.

Hasbullah juga mengatakan lembaganya sudah melakukan kajian di harga berapa orang akan berhenti membeli rokok. 

“Kami melakukan studi, sampai berapa harga rokok, dimana masyarakat akan berhenti. Sebagian besar kan berhenti pada harga rokok, dulu 2 tahun lalu 50 ribu akan berhenti. Sekarang survei kami, nanti akan kami expose bulan depan, 60 ribu. 100 ribu memungkinkan, jadi tinggal, mungkin 20 persennya yang akan membeli secara rutin,” ungkap Hasbullah.

Dan yang palin penting menurut Hasbullah, menaikkan harga rokok ini untuk mencegah munculnya perokok pemula karena bila sudah tergantung pada rokok sulit untuk berhenti total.

Bila perokok makin berkurang, biaya berobat yang diklaim masyarakat, terutama yang berada dalam skema program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), juga akan berkurang kata Yurdhina. Dan generasi yang tercipta adalah generasi yang sehat, cerdas dan mampu berkompetisi di dunia. Generasi yang tak cemas memandang masa depannya.

Baca juga:

 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".