Panglima Perintahkan Anggotanya Pastikan Titik Tenggelam KM Sinar Bangun

Panglima TNI Hadi Tjahjanto memerintahkan anggotanya bersama tim gabungan pencarian, mengidentifikasi lokasi di sekitar titik temuan tersebut.

Senin, 25 Jun 2018 14:09 WIB

Helikopter Basarnas jenis Dauphin HR-3604 terbang di atas Danau Toba saat melaksanakan pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun, di Simalungun, Sumatera Utara, Sabtu (23/6). (Foto: ANTARA/ Irsan M)

KBR, Jakarta - Panglima TNI Hadi Tjahjanto bakal memastikan titik tenggelamnya kapal motor KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Sumatra Utara. Ia membenarkan, telah menerima informasi titik kedalaman bangkai KM Sinar Bangun.

"Info terakhir oleh Basarnas dibantu tim dari geo-survey itu menemukan titik yang diduga itu KM Sinar Bangun di kedalaman 450 meter (di Danau Toba). Dari geo survey ini pernah berpengalaman pada waktu itu menemukan pesawat di Pulau Jawa, Air Asia," kata Hadi kepada wartawan di gedung Rupatama Mabes Polri, Senin (25/6/2018).

Namun menurutnya, keterangan itu belum 100 persen valid. Sehingga, ia memerintahkan anggotanya bersama tim gabungan pencarian mengidentifikasi lokasi di sekitar titik temuan tersebut.

"Tapi kami harus meyakinkan apakah benar yang ditemukan itu KM Sinar bangun."

Jika hasil analisis nantinya menunjukkan bahwa objek yang tertangkap alat pemindai itu betul merupakan bangkai KM Sinar Bangun, maka timnya akan bergegas mencari cara untuk mengangkatnya. Sembari, terus melanjutkan pencarian korban.

"Mudah-mudahan kapal itu, jika benar kami akan mencari teknik untuk mengangkat kapal tersebut dengan teknik yg dimiliki Basarnas dan TNI AL. Karena diduga masih ada korban yg terjebak" terangnya.

Pada Minggu (24/6/2018) sore, alat pemindai navigasi bawah laut atau sonar menangkap dua objek di dasar perairan Danau Toba. Kepala Basarnas Muhammad Syaugi mengatakan, dua objek itu terdeteksi di kedalaman 490 meter di dekat Pelabuhan Tigaras, Simalungun.

Baca juga:


Kendala Angkat Objek yang Diduga Bangkai Kapal

Namun hingga Senin (25/6/2018) siang, menurut Syaugi, tim SAR gabungan masih kesulitan mengangkat benda yang diduga bagian KM Sinar Bangun tersebut. Hasil analisis Basarnas menunjukkan, objek itu memiliki panjang 20 meter dan lebar 5 meter. Syaugi mengungkapkan, tim gabungan masih mengupayakan cara mengangkut objek itu ke permukaan.

"Kami semaksimal mungkin. Paling tidak bagaimana ini untuk mengangkat atau menarik atau bagaimana karena kami tidak punya yang namanya robot," terang Syaugi, Senin (25/6/2018).

Ia menambahkan, kendala pengangkatan itupun sudah dikonsultasikan Basarnas ke beberapa negara lain. Namun, alat yang dimiliki baru bisa mencapai kedalaman maksimal 100 meter. Selain itu, objek juga harus dipotong menjadi beberapa bagian.

"Saya berharap kapal ini bisa ditarik. Paling tidak kalau ditarik dia bisa lepas. Harapannya korban itu naik. Kita intinya untuk mengambil korban sebanyak mungkin dari dalam danau. Kapal nelayan di sini juga antusias untuk membantu," ungkap Syaugi.

Selama sepekan pencarian korban dan bangkai KM Sinar Bangun, tim SAR gabungan menyatakan telah mengerahkan pasukan elit ditambah peralatan tercanggih yang dimiliki. Tapi memasuki hari kedelapan pencarian, bangkai kapal kayu berbobot 17 gross tonnage itu masih dalam pencarian.

"Hari ini, Tim SAR mencoba menurunkan jangkar di lokasi temuan objek. Kami akan berusaha menarik objek tersebut dengan jangkar. Kontur dasar danau tidak datar. Sehingga pada awal pencarian kami sempat kesulitan," ujar Syaugi.

"Kendalanya adalah kedalaman danau yang sempat tidak terdeteksi sebelum alat teranyar datang," tambahnya.

KM Sinar Bangun karam di perairan Danau Toba dalam perjalanan dari Pelabuhan Simanindo di Samosir ke Pelabuhan Tigaras di Simalungun, Senin (18/6/2018) petang. Untuk sementara ini, tim SAR gabungan telah menemukan 22 orang. Sebanyak 18 penumpang dan seorang nakhoda ditemukan selamat, sedangkan tiga orang lainnya dinyatakan tewas. Sementara itu posko pengaduan menerima laporan 184 nama korban yang dilaporkan hilang.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.