Kapolri Sebut Penembakan Trigana Air di Papua Terkait Pilkada

Menurut Tito, kelompok bersenjata di Papua sering dimanfaatkan untuk mengintimidasi masyarakat ketika proses pemilihan.

Selasa, 26 Jun 2018 07:01 WIB

Kapolri Tito Karnavian sebelum rapat terbatas terkait persiapan Idulfitri 1439 H di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/5). (Foto: ANTARA/ Wahyu P)

KBR, Jakarta - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Tito Karnavian menduga penembakan pesawat Trigana Air dari Wamena menuju Kenyam, Papua ada kaitannya dengan Pilkada 2018. Tito membenarkan, pesawat yang membawa anggota Brimob itu ditembaki oleh kelompok bersenjata pada Senin (25/6/2018) sekitar pukul 09.35 waktu setempat.

Kendati tak ada anggota Brimob yang tewas dalam insiden itu, namun menurutnya pilot pesawat tertembak di bagian bahu.

"Pilotnya itu terkena pada bagian bahu, sementara 15 penumpangnya tidak ada korban, penumpangnya sempat diturunkan, diturunkan Brimobnya, dan mengejar pelaku penembakan," ujar Tito Kepada Wartawan di gedung Rupatama Mabes Polri, Senin (25/6/2018).

Menurut laporan yang diterima Tito, para pelaku juga menembaki warga di sekitar lokasi saat petugas melakukan pengejaran.

"Saya barusan mendapatkan informasi bahkan kelompok ini lari sambil menembak-nembak masyarakat ada tiga saya dengar yang ditembak sama ada yang dilukai. Saya belum tau apakah lukanya berat, ringan ataukah kemungkinan terburuk," lanjut Tito.

Ia pun melanjutkan, kelompok bersenjata itu disinyalir merupakan utusan dari para peserta Pilkada. Aksi itu dimaksudkan untuk membuat gaduh. Menurut Tito, kelompok bersenjata di Papua sering dimanfaatkan untuk mengintimidasi masyarakat ketika proses pemilihan.

"Supaya pasukan enggak maksimal, supaya mereka bisa melakukan intimidasi kepada masyarakat untuk memilih pasangan calon tertentu. Kejadian ini bukan hanya sekali sama seperti di Kabupaten Puncak, Bandara Ilaga dikuasai kejadiannya kira-kira 3-4 hari lalu ada kelompok bersenjata yang dimanfaatkan untuk politik," terang Tito.

Baca juga:

Kendati demikian ia mengatakan penjagaan tetap dilakukan bahkan bila diperlukan, akan ada penambahan personel. Kata Tito, saat ini ada 114 anggota TNI/Polri yang dikerahkan untuk menjaga lokasi kejadian.

Korban akibat penyerangan itu bukan hanya pilot pesawat, melainkan juga enam warga. Tiga di antaranya tewas, sementara tiga orang lainnya terluka akibat tembakan dan sabetan parang. Para korban luka tengah dirawat di RS Mitra Sehat Timika.

Menurut juru bicara Polda Papua, Ahmad Mustofa Kamal dalam rilis yang diterima KBR, korban meninggal atas nama Henrik Sattu (35) tewas akibat tertembak di perut kiri, Margeretha (20) tewas akibat sabetan di kepala, dan Zaebal Abidin (28) tewas tertembak di rusuk kiri.

Selain di Papua, penyerangan jelang Pilkada juga terjadi di Depok pada Sabtu (23/06/2018). Dalam peristiwa itu, polisi menembak mati dua penyerang di Jalan Iskandar Sukmajaya tersebut. Kedua orang yang diduga melakukan teror itu berinisial AS dan AZW. Dari keduanya polisi menyita barang bukti berupa sebilah pisau komandi, sepucuk pistol FN dan Magazine juga 10 peluru berukuran 9 mm. Polisi menduga, dua orang itu akan melangsungkan teror pada Pilkada 27 Juni.

Latar penyerangan itu, tambah Kapolri Tito Karnavian, lantaran kelompok jaringan teroris menganggap helatan Pilkada ataupun Pemilu tak sesuai dengan ideologi mereka.

"Sehingga demokrasi itu dianggap syirik. Maka kami lakukan upaya preventif. Kami sudah deteksi setidaknya ada 13 orang ditangkap termasuk yang di Depok, yang ditembak mati, tapi masih ada yang hidup untuk dimintai keterangan," ujar Tito.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".