BIN Sebut Hukuman Mati Aman Tak Naikkan Potensi Teror

Jumat, 22 Jun 2018 21:13 WIB

Sidang kasus teror di sejumlah daerah dengan terdakwa Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (16/3). (Foto: KBR/ May)

KBR, Jakarta - Wakil Kepala Badan Intelijen Negarav(BIN) Teddy Lhaksamana meyakini vonis hukuman mati terhadap pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Aman Abdurrahman tidak akan memicu bangkitnya sel teroris lain. Meski begitu, Teddy mengatakan kewaspadaan seluruh pihak harus ditingkatkan.

"Enggak. (Tapi) kewaspadaan setiap orang harus. Masa enggak. (Pergerakan kelompok lain?) Enggak, bisa diantisipasi. Masa keinginannya ribut melulu,"kata Teddy di kantor Kemenkopolhukam, Jumat(22/6).

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini menjatuhkan pidana mati kepada pentolan JAD Aman Abdurrahman. Aman disebut terbukti memerintahkan empat orang untuk meledakkan bom saat ledakan Thamrin Januari 2016 silam. Ceramah yang disampaikannya, menurut hakim, terbukti memprovokasi dan membuat seseorang memiliki paham radikal.

Baca juga:


Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menegaskan pemerintah sudah siap mengantisipasi kemungkinan bangunnya sel-sel teroris lain pasca putusan tersebut. Dia memastikan upaya pemberantasan teroris selama ini tidak pernah dikendorkan.

"Tidak henti-hentinya dan sepanjang waktu kita melakukan operasi penanggulangan terorisme. Tidak ada hari ini kita lemah, besok kuat. Sepanjang waktu. Kalau kita bicara penanggulangan terorisme, maka aparat keamanan selalu waspada,"ujar Wiranto di kantornya, usai rapat persiapan akhir pilkada serentak.

Wiranto menegaskan putusan Aman sudah dihasilkan melalui proses hukum. Aparat keamanan selama ini sudah berupaya menciptakan rasa aman di tengah masyarakat. Apalagi, kurang dari sepekan 171 daerah akan melaksanakan pilkada serentak. Wiranto memastikan pelaksanaannya tidak akan terganggu oleh ancaman teror. 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Seberapa besar ketertarikan generasi milenial terhadap koperasi di Indonesia saat ini?