Sebulan Terakhir, Densus Antiteror Tangkap 40 Terduga Teroris

Periode satu bulan penangkapan itu dimulai sejak peristiwa ledakan bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur, Rabu 24 Mei 2017 malam hari hingga Rabu 21 Juni 2017.

Kamis, 22 Jun 2017 15:24 WIB

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Rikwanto (kiri) dan Kepala Divisi Humas Polri Setyo Wasisto (kanan) ketika merilis pengungkapan kasus terorisme di Mabes Polri, Kamis (22/6/2017). (Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga)

KBR, Jakarta - Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, Detasemen Khusus Antiteror 88 Mabes Polri menangkap 40 orang terduga teroris.

Penangkapan itu dimulai sejak peristiwa ledakan bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur, Rabu 24 Mei 2017 hingga Rabu 21 Juni 2017.

Juru bicara Mabes Polri Setyo Wasisto mengatakan dari 40 orang yang ditangkap itu sekitar 14 orang diantaranya berhubungan langsung dengan peristiwa bom Kampung Melayu. Sedangkan lainnya terbukti berafiliasi dengan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD)

"Setelah dilakukan penyelidikan selama tujuh hari terhadap 40 orang tersebutl, 25 orang ditahan dan tiga orang dikembalikan karena tidak cukup bukti. Sedangkan 12 orang lainnya belum selesai diperiksa polisi," kata Setyo Wasisto di Jakarta, Kamis (22/6/2017).



Petugas polisi menunjukkan foto tersangka teroris saat merilis pengungkapan kasus teroris, di Jakarta, Kamis (22/6/2017). (Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga)
 
Penyelidikan yang dilakukan Densus 88 Polri gencar dilakukan setelah terjadi peristiwa bom Kampung Melayu. Polri mendalami setiap hasil yang didapat dari pemeriksaan terhadap sidik jari, identitas dan jaringan kelompok pelaku yang ditelusuri.

Selain merilis identitas para terduga dan pelaku teroris, kepolisian juga melakukan ekspos terhadap barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian, ataupun yang diperoleh dari tempat tinggal para pelaku. Polri menunjukkan sejumlah bukti seperti boks panci, serpihan panci, sisa ransel, tepung, paku, baut, struk pembelian panci, gotri dan lainnya. Semua barang bukti telah disegel dan dimasukan kedalam plastik agar tidak mencemari udara sekitar.

"ini barang bukti yang kami temukan. Ada pecahan gunting, baut, plat yang kami dapatkan dari tubuh Taufan. ini semua kami amankan dengan plastik agar tidak membahayakan sekitar, karena pada barang bukti ini terdapat percikan darah para korban," ujar Setyo.



Polri menunjukkan barang bukti saat merilis pengungkapan kasus terorisme di sejumlah daerah di Jakarta, Kamis (22/6/2017). (Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga)
 
Setyo juga mengatakan bahwa ke 40 orang tersebut ditangkap dari beberapa daerah di Indonesia. Beberapa orang diantaranya berhasil ditangkap sebelum menjalankan aksinya.

"Berangkat dari kasus Kampung Kelayu maka Densus 88 Antiteror Polri melaksanakan tugas secara aktif, termasuk terakhir ini berhasil melaksanakan kegiatan preventif strike atau tindakan pencegahan, seperti yang terungkap di Bima dimana mereka berencana menyerang kantor Polsek. Lalu di Jawa Barat juga berencana menyerang dan menembak polisi," kata Setyo.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing