Polisi Tetapkan Tersangka Baru Teror Polda Sumatera Utara

Polisi menetapkan Boboy alias Andri sebagai tersangka pelaku survei di Mapolda Sumatera Utara, sebelum kelompok JAD melakukan serangan teror.

Senin, 26 Jun 2017 12:55 WIB

Anggota Brimob berjaga di dekat pos polisi Mapolda Sumatera Utara usai serangan teror pada Minggu (25/6/2017). (Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi)

KBR, Medan - Kepolisian Daerah Sumatera Utara menetapkan seorang tersangka baru dalam kasus penyerangan ke Markas Polda Sumatera Utara.

Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara Rina Sari Ginting mengatakan setelah memeriksa 12 orang saksi, Polda menetapkan Boboy alias Hendri sebagai tersangka baru.

"Dari saksi itu ada beberapa orang yang terus didalami terkait dengan peranan mereka. Satu orang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka yang memiliki peranan melakukan survei, dan pemetaan tentang lokasi Polda Sumut," kata Rina di Mapolda Sumut, Senin (26/6).

Rina mengatakan seluruh anggota tim gabungan masih memeriksa para saksi, termasuk mengungkap jaringan dari pelaku.

"Ada beberapa alat komunikasi yang disita, baik dari rumah pelaku SP, dan AR. Terus dilakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan itu," ungkap Rina.

Serangan teror yang terjadi Minggu (25/6/2017) pukul 03.00 WIB itu menyebabkan seorang anggota polisi tewas ditikam senjata tajam. Dua pelaku sempat berkelahi dengan dua polisi yang berjaga. Seorang polisi, Martua Sigalingging tewas diserang pelaku dengan senjata tajam.

Polisi melakukan perlawanan. Salah seorang pelaku berinisial SP terkena tembakan di bagian paha. Sementara pelaku lainnya, AR ditembak mati petugas lain yang juga sedang berjaga di Mapolda Sumut. Polisi menyebut dua pelaku berasal dari kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Dengan tambahan tersangka Boboy, Polisi sudah mendapatkan tiga tersangka, termasuk satu orang yang sudah tewas.



Foto: Kabid Humas Polda Sumatera Utara Rina S Ginting bersama Anggota DPR asal Sumatera Utara Hasrul Azwar di gardu lokasi serangan teror di Polda Sumatera Utara, Senin (26/6/2017). (Foto: KBR/Anugrah Ardiansyah)
 
Anggota Komisi Hukum DPR dari PPP, Hasrul Azwar yang berasal dari daerah pemilihan Sumatera Utara ikut meninjau lokasi serangan di Polda Sumatera Utara. Ia meminta aparat kepolisian segera melakukan sweeping (penyisiran) serta bertindak agresif terhadap sel-sel jaringan kelompok teroris maupun pemahaman yang bertentangan dengan Pancasila.

"Sumatera Utara ini ternyata diam-diam ada juga sel-sel jaringan radikal. Saya menduga pusatnya di Jawa, sebagian di Indonesia bagian timur. Justru, Sumatera Utara masuk daerah rawan terkena aliran-aliran yang bertentangan konstitusi kita," kata Hasrul.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2

JK: Pertemuan SBY-Mega Tenangkan Situasi Politik Nasional

  • Air Baku Terbatas, Balikpapan Hanya Kebagian 813 Program Pemasangan Baru PDAM
  • Kloop Tegaskan Tak Punya Alasan Menjual Coutinho

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR