Listrik Naik atau Subsidi Dicabut? Ini kata Istana

"Katakanlah yang punya kos-kosan atau yang lainnya, itu memasang 900 watt, itu kan tidak tepat sasaran, subsidi harusnya kan untuk orang yang tidak mampu,"

Senin, 12 Jun 2017 14:08 WIB

Ilustrasi

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Istana membantah penaikan tarif dasar listrik (TDL). Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki mengatakan, pemerintah masih memberikan subsidi untuk pelanggan 450 Volt Ampere dan 900 Volt Ampere. Namun, kata dia, sebagian besar pelanggan 900 VA dialihkan ke tarif nonsubsidi. Ini lantaran banyak dari mereka adalah keluarga mampu berdasarkan temuan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Yang 900 VA setelah diperiksa di lapangan, by name by address oleh TNP2K bersama PLN, memang sebagian besar itu memang keluarga mampu, sehingga tidak layak menerima subsidi. Misalnya orang-orang yang mampu, katakanlah yang punya kos-kosan atau yang lainnya, itu memasang 900 watt, itu kan tidak tepat sasaran, subsidi harusnya kan untuk orang yang tidak mampu," kata Teten di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (12/6/2017).

Teten menambahkan, pemerintah tetap memberikan subsidi 4 juta keluarga tidak mampu pelanggan listrik 900 VA. Bahkan, menurutnya, jumlah penerima subsidi untuk pelanggan listrik 450 VA justru bertambah. Namun, Teten tidak memberikan data rinci.

"Yang 450 watt sebenarnya jumlahnya sekarang nambah. Yang 900 watt itu masih ada sekitar 4 juta pelanggan yang tetap menerima subsidi," tuturnya.

Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan jumlah pelanggan listrik 450 VA sebanyak 23 juta, sementara 900 VA sebanyak 27 juta. Seluruh pelanggan 450 VA dijamin tetap mendapatkan subsidi. Adapun untuk daya 900 VA, tercatat sebanyak 19 juta pelanggan tergolong keluarga mampu sehingga tidak mendapatkan subsidi. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR