Menteri Lukman Minta Ceramah Berisi Pesan Damai, Ini Kata Dewan Masjid dan MUI

"Sering kali dikelolanya secara reaktif. Ada kasus pemboman, ada kasus terorisme, baru kemudian ini disentuh. Sehingga di awal muncul persepsi yang tidak baik."

Jumat, 18 Mei 2018 10:35 WIB

Ilustrasi: KH Ahmad Naqib Noor Rozi memberikan ceramah agama saat pengajian bulan Ramadan di Masjid Agung Kauman, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (17/5). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta-   Dewan Masjid Indonesia menyatakan  belum pernah mendata atau membina penceramah yang menyampaikan isi ceramah bernuansa radikal. Bendahara Umum  Dewan Masjid Indonesia Mahfud Sidik mengatakan, imbauan soal isi ceramah yang damai selama ini hanya disampaikan oleh dewan masjid melalui ceramah keagamaan, bukan turun langsung ke lapangan. Dia menilai, hal tersebut bukan wewenang lembaganya.

Kata dia, harus ada kesadaran mandiri, baik dari khatib ataupun imam untuk mengelola panggung keagamaan yang berorientasi pada perdamaian.

"Seringkali masjid, mushola, majelis taklim, ini sebagai entitas sosial yang eksis, yang ada di masyarakat, tetapi sering kali dikelolanya secara reaktif. Ada kasus pemboman, ada kasus terorisme, baru kemudian ini disentuh. Sehingga di awal muncul persepsi yang tidak baik." Ujar dia kepada KBR.
 

Mahfud Sidik mengatkan  tidak sulit memantau tokoh agama, dan ceramah yang disampaikannya. Hanya saja, pihaknya tidak berwenang. Menurutnya, kepolisian bisa melakukan pemantauan, dengan melibatkan lembaga keagamaan, agar tidak menimbulkan kesan represif.

KBR sudah mencoba meminta tanggapan polisi terkait penindakan terhadap ceramah-ceramah yang bermuatan ujaran kebencian. Namun Kepala Divisi Humas Mabes Polri Setyo Wasisto dan Kepala Bagian Penerangan Umum Syahar Diantono tidak menanggapi permintaan wawancara terkait hal tersebut.  Humas Mabes Polri lainnya, Slamet Pribadi pun menolak diwawancara sebelum ada penugasan dari Kadivhumas.

Baca juga:

Sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengakui, ada kelompok tertentu yang menyampaikan ceramah berisi hal-hal radikal. Namun, menurut Ketua Bidang Pendidikan dan Pengkaderan Ulama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdullah Djaidi, kelompok tersebut biasanya menggelar pengajian bersifat tertutup dan eksklusif.
 
Kata dia, Jika tidak mendapat ruang di masjid, pengajian akan diadakan di rumah-rumah. Ia mengimbau, masyarakat yang melihat pengajian yang eksklusif semacam itu untuk lebih mewaspadai, bukan mencurigai.

MUI, kata dia, bakal mengadakan pelatihan kepada dai-dai di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah mengusung islam jalan tengah, santun, moderat, tidak keras, dan mengutamakan tasamuh atau toleransi.

"Kita dari MUI akan mengadakan pelatihan, penataran dai-dai seluruh Indonesia, kemudian kita di majelis ulama melaksanakan pengkaderan ulama. Pendidikan ini sangat penting karena ilmu harus disikapi dengan ketawaduan dengan akhlak." Kata Abdullah Djaidi.

 Abdullah menyatakan, MUI telah menyampaikan ke pemerintah dan Kementerian Agama agar meminimalisir ceramah bermuatan radikal. Selain itu,  meminta Kementerian Agama membantu menyiapkan strategi dakwah yang benar.
 

Sebelumnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengimbau para pemuka agama untuk menyebarkan materi ceramah bermuatan perdamaian kepada umatnya. Presiden Jokowi, menurutnya, menginstruksikan langsung agar tidak ada lagi ceramah yang mengandung ujaran kebencian, termasuk selama bulan Ramadan.

"Agar pemuka agama menggunakan rumah ibadah dalam memberikan ceramah keagamaan betul-betul tidak provokatif, agitatif, apalagi menyebarkan fitnah," kata Lukman di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (16/5/2018)

"Tapi ceramah itu betul-betul kembali ke esensi agama yang melindungi harkat martabat kemanusiaan," tambahnya.

Agama, kata dia, tidak boleh diarahkan pada pengamalan yang ekstrem. Menurut Lukman, pemuka agama menjadi salah satu yang bertanggung jawab mengembalikannya.

Hal itu menurutnya penting dilakukan untuk menjaga persatuan bangsa. Dia juga meminta kepolisian tidak ragu menindak jika ada laporan-laporan terkait ceramah keagamaan yang menyebarkan kebencian.

"Kita lebih banyak dipengaruhi paham luar yang tidak sejalan dengan kita, maka agama harus diarahkan ke sisi yang moderat itu."



Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.