Menko Darmin Ungkap Langkah Perkuat Stabilitas Ekonomi

"Keseluruhan upaya reformasi struktural di atas diharapkan bisa mendorong peningkatan investasi di bidang ekspor untuk menopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia, pada jangka menengah," kata Darmin.

Senin, 28 Mei 2018 14:47 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. (Foto: Setkab/ Jay)

KBR, Jakarta - Pemerintah dan lembaga keuangan menempuh langkah reformasi struktural guna memperkuat stabilitas perekonomian. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, perombakan struktural itu dilakukan melalui penguatan koordinasi dan integrasi kebijakan antar-instansi juga lembaga. Bukan saja di lini pemerintah melainkan juga dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia dan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sehinggamemungkinkan perumusan kebijakan menghadapi gejolak ekonomi global. 

"Keseluruhan upaya reformasi struktural di atas diharapkan bisa mendorong peningkatan investasi di bidang ekspor untuk menopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia, pada jangka menengah," ujar Darmin, di Kementerian Keuangan, Senin (28/5/2018).

Upaya tersebut, menurut Darmin, juga untuk mengantisipasi dinamika gejolak perekonomian dunia. Ini karena kata dia, kebijakan Amerika yang kini berubah. Namun ia meminta masyarakat tak perlu khawatir, sebab kondisi tersebut dialami hampir seluruh negara berkembang.

"Jadi saudara-saudara jangan, mungkin ada yang merasa apa yang mau dilakukan segera, kita tidak sedang kritis kita hanya memperkuat kerjasama menghadapi dinamika yang bukan hanya sudah terjadi, kita percaya masih akan terjadi."

Ia melanjutkan, selain melakukan reformasi struktural dan koordinasi, langkah lain ditempuh dengan memperbaiki kebijakan viskal, menjaga inflasi, mempercepat perbaikan iklim daya saing dan lain sebagainya.

Baca juga:

Hal senada diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ia menegaskan, perekonomian Indonesia masih berjalan aman dan lancar. Hal ini ditandai dengan naiknya penerimaan pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan di pelbagai sektor. 

"Dilihat dari APBN, implementasi 2018 masih sangat kuat dan sehat sampai April kemarin tumbuh 14,4 persen. PPN juga naik dan PPH badan naik 23,6 persen dan ini cukup merata di semua sektor, walau di beberapa sektor ada yang lebi tinggi tapi jika dirata-ratakan jumlahnya begitu," papar Sri.

Sementara menurut laporan tahunan, jumlah defisit pun kian kecil yakni sebesar 0,37 persen per April 2018. Di mana sebelumnya mencapai 0,53 persen. Dampak yang mungkin ditimbulkan dari perubahan kebijakan Amerika di bidang ekonomi, di antaranya mempengaruhi kenaikan suku bunga karena inflasi Amerika lebih tinggi. Selain itu, juga mengakibatkan kebijakan defisit viskal dengan perkiraan meningkat hingga 5 persen dari sebelumnya.

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menyentuh titik terendah dalam dua tahun terakhir. Per 21 Mei 2018 kurs Rupiah di angka Rp14.190 per dolar Amerika Serikat. Sementara hari ini dikutip dari laman Bank Indonesia kurs Rupiah berada di kisaran Rp14.065 per dolar Amerika Serikat.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.