Kompromi Polisi dengan Napi Teroris di Tengah Ricuh Mako Brimob

Napi terorisme di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok membebaskan Iwan Sarjana--sandera dari anggota kepolisian. Tapi perkara belum usai, para tahanan disebut masih menguasai Rutan dan menyimpan senjata.

Kamis, 10 Mei 2018 06:45 WIB

Sejumlah kendaraan milik kepolisian mengamankan Mako Brimob Kelapa Dua pascabentrok antara petugas dengan tahanan di Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5). (Foto: ANTARA/ Akbar N)

KBR, Jakarta - Iwan Sarjana, harus dipapah dua orang untuk bisa berjalan. Mukanya bengep, terutama bagian mata. Anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror yang disandera para tahanan kasus terorisme di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok itu akhirnya dibebaskan. Ia ditawan sejak Selasa (8/5/2018) malam saat ricuh antara tahanan dan polisi, pecah.

Juru bicara Mabes Polri Setyo Wasisto mengatakan, pembebasan dilakukan setelah polisi sepakat mengirim pasokan makanan sesuai permintaan para tahanan. Iwan pun ditukar dengan sejumlah porsi makanan.

"Penyerahan (sandera) kira-kira tengah malam," kata Setyo di kawasan Mako Brimob, Kamis (10/5/2018) dini hari.

"Tim negosiator sudah menyampaikan untuk sandera anggota Polri atas nama Brigadir Iwan Sarjana sudah berhasil dibebaskan dalam keadaan hidup," terangnya lagi.

Selain lebam di bagian muka, Setyo menuturkan, beberapa bagian tubuh Iwan juga mengalami masalah. "Sekarang dibawa ke RS Polri untuk dirawat."

Kendati sandera telah dibebaskan, hingga kini menurut Setyo kondisi Rutan belum aman. Sebab para tahanan masih memegang senjata api dan senjata tajam. "Masih ada sejumlah negosiasi lagi," kata dia.

Baca juga:

Polisi terus menjaga ketat area Mako Brimob, khususnya sekitar Rutan. Sejumlah pasukan juga ditempatkan di luar Mako Brimob. Selain itu polisi menutup Jalan Raya Akses UI, jalan utama depan Mako Brimob.

Lewat 24 Jam Negosiasi

Perundingan hingga berujung pembebasan sandera itu memakan waktu lebih dari 24 jam. Selain komunikasi jarak jauh, polisi sampai menurunkan beberapa orang untuk bernegosiasi dengan para tahanan. Setyo mengatakan, tawar-menawar itu sempat terkendala lantaran ada permintaan para tahanan yang mustahil dipenuhi. Tapi, ia merahasiakan permintaan itu.

"Tuntutan sebenarnya tidak jelas, karena memang asal-usulnya masalah sepele. Masalah makanan. Tiba-tiba kemudian ada yang memprovokasi dan membobol ruangan maupun lokasi yang lain," tutur Setyo saat jumpa pers di kawasan Mako Brimob, Kelapa Dua, Rabu (9/5/2018).

Kerusuhan di Mako Brimob terjadi setelah seorang tahanan bernama Wawan mengamuk, Selasa (8/5/2018) sore. Perkaranya, ia kecewa sebab titipan berupa makanan dari keluarganya dicek terlebih dulu oleh polisi. Menurut polisi, prosedur Rutan Mako Brimob memang mengharuskan petugas memeriksa seluruh kiriman dari keluarga tahanan.

Merasa tak terima, Wawan lantas memprovokasi tahanan lain. Pengeroyokan tahanan terhadap sejumlah polisi yang bertugas pun terjadi. Akibat kerusuhan itu, lima polisi dan seorang narapidana terorisme tewas.

Para tahanan juga berhasil merampas senjata polisi, termasuk kemudian menyandera Iwan Sarjana. Setyo mengatakan, tim Detasemen Khusus 88 masih mendalami motif di balik provokasi tersebut.

Baca juga:

Bukan hanya itu, kata Setyo, tahanan sempat menawan lima jenazah polisi korban kerusuhan. Tapi kemudian, jenazah itu diserahkan setelah polisi menyetujui permintaan tahanan untuk bertemu Aman Abdurrahman.

Tahanan teroris di Mako Brimob itu di antaranya merupakan bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Pada 2015, organisasi ini muncul dari sejumlah faksi kelompok teroris di Indonesia. Menurut intelijen Amerika Serikat, JAD berada di belakang Aman Abdurrahman sebagai pendukung kelompok simpatisan ISIS.

Atas insiden tersebut, kepolisian langsung meningkatkan pengamanan di kawasan Mako Brimob. Pasalnya, kata Setyo jumlah tahanan mencapai ratusan orang dan dianggap telah melampaui batas.

"Di situ ada beberapa blok: blok A, blok B, dan blok C yang diisi yang jumlahnya mungkin lebih dari sesuai yang sudah cukup, cukup penuh ya di luar dari kapasitas yang normal," ungkapnya.

Baca juga:


Tahanan Kuasai Rutan?

Hingga kini menurut Mabes Polri, para narapidana kasus terorisme itu masih menguasai Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Karenanya proses negosiasi oleh polisi terus dilakukan.

"Mereka kan bersenjata. Kelihatannya membawa senjata tajam. Mereka hanya di dalam, tidak bisa keluar," kata Setyo di kawasan Mako Brimob, Rabu (9/5/2018).

Setyo menuturkan, para tahanan berada di Rutan tanpa dikurung dalam penjara dan bebas dari penjagaan polisi. Kondisi ini terjadi setelah bentrok antara para napi teroris dengan 10 polisi yang berjaga di Rutan, Selasa (8/5/2018). Akibatnya, enam orang tewas. Lima di antaranya anggota polisi dan seorang lainnya narapidana terorisme.

Berdasar identifikasi, tahanan kasus terorisme itu membunuh lima anggota polisi menggunakan senjata api dan senjata tajam. Dalam jumpa pers, Setyo mengatakan para tahanan mengeroyok, menyiksa, dan merebut senjata polisi.


Anggota keluarga berdoa di samping peti jenazah korban kerusuhan di Rutan Mako Brimob almarhum Briptu Fandy Setyo Nugroho, di Kompleks Polri, Jatirangga, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (9/5). (Foto: ANTARA/ Akbar N)

Jenazah kelima korban tewas dari anggota kepolisian itu sudah dijemput masing-masing keluarga, Rabu (9/5/2018) sore. Berdasarkan pantauan KBR di RS Polri Kramat Jati, sekitar pukul 18.00 WIB keluarga korban berdatangan untuk mendapat penjelasan dari anggota kepolisian terkait pengurusan jenazah. Sejam setelah itu, satu per satu ambulans dengan didampingi mobil petugas keluar dari rumah sakit menuju rumah duka.

Di antaranya ada kerabat Bripka Denny yang langsung membawa jenazah ke rumah duka di Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Diikuti penjemputan jenazah IPDA Ros Puji menuju Bukit Waringin, Briptu Fandi Setyo ke perumahan Jati Rangga, Bripda Syukron Fadhil ke Komplek TNI Cakung dan, Bripda Wahyu Catur menuju Kuwarasa Kebumen. Seluruh jenazah itu diantar dengan iring-iringan penjagaan Provost Mabes Polri.

Sedangkan satu jenazah lain yakni Benny Syamsu--narapidana terorisme, rencananya dipulangkan Rabu (9/5/2018) namun belum terlihat ada keluarga yang menjemput.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.