Anggota Jadi Korban Teroris, Kapolri Beri Bantuan Rumah

"Anggota kita Prencje, putranya yang sulung ikut tes, untuk menghargai kita beri dispensasi ikut pendidikan bintara tanpa tes."

Jumat, 18 Mei 2018 11:19 WIB

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kedua kanan) menyematkan tanda kenaikan pangkat kepada Anggota Provost Polda Riau Aipda JB Panjaitan saat upacara kenaikan pangkat luar biasa di Mapolda Riau, di Pekanbaru, Riau, Kamis (17/5). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Tito Karnavian memberikan penghargaan kenaikan jabatan luar biasa sekaligus bantuan rumah kepada 6 anggota yang tewas dalam kerusuhan rutan Salemba cabang Mako Brimob. 5 diantaranya tewas dalam sekapan napiter di dalam rutan dan 1 anggota tewas ditikam terduga teroris sehari setelah kerusuhan selesai.

"Kita juga memikirkan bagi anggota-anggota kita yang gugur dalam tugas. Selain kenaikan pangkat luar biasa, kita juga tentunya memikirkan keluarga yang ditinggalkan. Di antaranya kita berikan perumahan ini adalah dari donatur yang peduli dan simpati kepada anggota polri yang gugur," ujar Tito saat memberi sambutan di gedung Rupatama Polri, Jumat (18/05/2018).

Pemberian penghargaan dan bantuan rumah diserahkan secara simbolis kepada orangtua, istri atau kerabat dari anggota yang menjadi korban. selain itu, bantuan berupa dispensasi kepada dua anak korban yang ingin menjadi anggota polisi. Menurut info yang ia dapat kedua anak dari dua korban anggota ini pada awalnya tidak lolos dalam seleksi psikotes, namun untuk memberi motivasi dan penghargaan tinggi maka kapolri memberi dispensasi tersebut.

"Ada dua anggota Brimob yang gugur mereka akan diberi kenaikan pangkat luar biasa.  puteranya itu lulus tapi gagal tes psikologi. Anggota kita   Prencje, putranya yang sulung ikut tes tapi tidak lulus, namun untuk menghargai kita beri dispensasi ikut pendidikan bintara tanpa tes." ujar Tito.

Selain keenam anggota tersebut, beberapa anggota lain yang juga gugur dalam tugas akan mendapatkenaikan tingkat dan bantuan yang sama.
 
Penangkapan

Tim densus 88 anti teror dikabarkan menangkap seorang terduga teroris asal Dusun Plemahan Desa Banyuarang Kecamatan Ngoro, Jombang, Jawa Timur. Menurut informasi warga, terduga berinisal NK (35) diketahui dibawa sejumlah   petugas sekitar pukul 14.00 WIB Kamis (17/05) siang.

Salah satu warga, Nur, mengatakan  tidak menyangka jika tetangganya NK diciduk petugas di rumahnya lantaran dugaan keterlibatan gerakan terlarang. Warga di sekitar rumahnya pun tidak yakin jika NK terlibat jaringan teroris.

 Menurut Nur, NK merupakan penduduk asli Desa Banyarang dan sehari-harinya bekerja sebagai penjual pisang keliling. Di rumahnya, NK tinggal bersama kedua orang tuanya berinial B dan S.

“Setiap hari saya tahu dia (NK) itu penjual pisang, habis itu ke warung sini main wifi terus pulang, gitu saja. Dia asli penduduk Plemahan sini, cuma dia menikah dengan orang dari Kecamatan Bareng. Kalau saya sendiri iya percaya iya nggak, tapi tidak mengira," kata Nur, Kamis (17/05/18).

Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari Polisi terkait penangkapan itu. Pasca penangkapan, sejumlah petugas dari Kepolisian Jombang diterjunkan untuk mengamankan Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Baca juga:

Sebelumnya Tim kepolisian juga menangkap delapan orang terkait aksi teror di Markas Polda Riau. Polisi telah meringkus lima pelaku penyerangan pada Rabu (16/5/2018) kemarin. Empat di antaranya tewas ditembak lantaran melawan petugas.

Kapolri Tito Karnavian mengatakan delapan orang yang ditangkap di Kota Dumai itu masih menjalani pemeriksaan.

"Sedang kami kembangkan, gabungan Mabes Polri, Polda, Polres. Kami tidak sampaikan jaringannya, nanti setelah pemeriksaan selesai semua, baru kami sampaikan," terang Tito di Riau, Kamis (17/5/2018).

Sementara di lokasi berbeda, juru bicara Mabes Polri Syahar Diantono menerangkan, penangkapan dilakukan setelah polisi menggeledah rumah salah satu pelaku penyerangan, AS. Di rumah yang berlokasi di Kecamatan Dumai itulah polisi mencokok delapan orang yang merupakan anggota keluarga pelaku.

"Mapolda Riau dan Densus menggeledah rumah-rumah tersangka yang kemarin (Rabu, 16/5/2018) bisa kami indentifikasi," kata Syahar kepada wartawan di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

"Dari hasil penggeledahan bisa diamankan delapan orang yaitu HAN, yang kedua NI, yang ketiga AS, keempat SW, kelima HD, keenam YEP, dan ketuju DS, kemudian yang kedelapan SY alias IJ," paparnya lagi.

Dari delapan orang tersebut, hubungan kekerabatan ditemukan antara HAR yang merupakan kakak kandung salah satu pelaku penyerangan. Sementara NI, merupakan ibu kandung salah satu penyerang, SW adalah ibu kandung pelaku AS, HD dan YE yang merupakan adik kandung AS. Sedangkan tiga lainnya masih dalam penyelidikan.

"Tapi tiga lainnya masih kami dalami di luar daripada pelaku kemarin."

Selain menangkap delapan orang, polisi juga menyita barang bukti berupa sebuah senapan angin, sebuah kitab berjudul "Pandai Amal dan kitab Alhakam", paku satu plastik, VCD Umar Bin Khatab, KTP atas nama KM, pisau dua buah, sebuah gulungan tembaga dan beberapa buku tentang jihad serta ISIS.

Menurut Syahar, hingga kini kepolisian masih mendalami identitas dan keluarga pelaku untuk penggeledahan lanjutan sebagai antisipasi.

Deradikalisasi

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT) Suhardi Alius mengatakan, lembaganya tidak bisa menyentuh anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah(JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid(JAT) yang belum berstatus terpidana. Kata dia, program deradikalisasi BNPT selama ini hanya menjangkau orang-orang yang sudah divonis melakukan aksi teror serta keluarga mereka.

"JAD, JAT, dan lain-lain itu belum kena program sama sekali. Fokus BNPT itu orang-orang yang sudah berstatus terpidana baik itu di dalam lapas maupun di luar lapas. Kenapa? Mereka jaringan sudah pernah lakukan. Mereka tersangka saja kita belum punya akses. Itu sudah keputusan tetap," kata Suhardi di Kantor Kemenko PMK, Kamis (17/5).

Menurutnya, BNPT hanya berwenang melakukan program deradikalisasi kepada orang-orang yang sudah resmi dijatuhi hukuman pidana. Suhardi menjelaskan sekitar 600 bekas napi teroris sudah kembali ke masyarakat. 128 di antaranya kini membantu BNPT menggali informasi dari jaringan teroris. Dari jumlah itu, kata dia, hanya tiga yang kembali melakukan aksi teror.

"Hanya tiga yang kembali mengulangi perbuatannya. Bom Thamrin, bom Cicendo, sama Samarinda."

BNPT sudah meminta penambahan kewenangan di revisi UU Antiterorisme. Suhardi berharap, lembaganya diberi kewenangan melakukan deradikalisasi kepada kelompok radikal tanpa harus menunggu status terpidana.

Sebelumnya, polisi menyebut rentetan teror belakangan ini didalangi oleh JAD. Baik JAD maupun JAT, keduanya merupakan jaringan teroris yang berafiliasi dengan ISIS.

Baca juga:


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.