Seminar Anti-LGBT Berganti Tajuk, Pelaksana Tolak Beri Penjelasan

Helatan yang digagas Dharma Wanita Persatuan itu mulanya mengambil tema "Selamatkan Keluarga dan Anak Indonesia dari Gerakan LGBT".

Rabu, 25 Apr 2018 23:22 WIB

Ilustrasi. (Foto: KBR/ Rio T)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Seminar mengenai pola asuh anak yang digelar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berubah tajuk.

Helatan yang digagas Dharma Wanita Persatuan itu mulanya mengambil tema "Selamatkan Keluarga dan Anak Indonesia dari Gerakan LGBT". Namun tak lama, tajuk seminar berganti menjadi "Selamatkan Keluarga dan Anak Indonesia di Era Milenial".

Ketua Pelaksana dari Dharma Wanita Persatuan Virna Mayerfas menolak berkomentar mengenai hal perubahan tajuk seminar tersebut, tanpa memberi alasan.

"Saya no comment kalau soal itu, ya," kata Virna kepada KBR usai acara di Kemendikbud, Jakarta Selatan, Rabu (25/4/2018).

Dharma Wanita Persatuan atau DWP adalah organisasi para istri Pegawai Aparatur Sipil Negara. Semula, DWP berencana menggelar seminar mengenai penyelematan anak dari kelompok LGBT.

Dalam poster yang tersebar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menjadi salah satu pembicara. Tetapi tajuk seminar dan narsumber lantas berganti menyusul munculnya kritik dari warganet.

Baca juga:

Tajuk seminar berganti menjadi soal penyelamatan anak di era milenial. Menteri Muhadjir pun tidak jadi mengisi acara. Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemendikbud Sukiman menggantikan posisi Muhadjir dalam acara tersebut.

Senada dengan DWP, Sukiman enggan menjelaskan soal pergantian tema seminar tersebut. Dia bilang, yang bisa menjelaskan adalah panitia pelaksana. Sebab, acara terselenggara atas inisiasi DWP.

Mengenai kontroversi penyelamatan anak dari LGBT, Sukiman mengatakan, kementeriannya menginginkan anak-anak Indonesia berkembang dengan baik.

"Sebenarnya hal-hal negatif kan bukan hanya itu (LGBT). Tetapi bagaimana kita asuh anak dengan baik, kita berikan lingkungan yang baik sehingga nanti dia akan tumbuh kembang seperti yang kita harapkan."

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.