Apa Sebab Pembahasan RUU Antiterorisme Diperpanjang?

Kata Syafii, unsur-unsur di pemerintahan pun belum sepenuhnya satu kata soal definisi terorisme. Misalnya, klaim dia, TNI dan Kementerian Pertahanan yang lebih setuju dengan usulan DPR.

Kamis, 26 Apr 2018 22:53 WIB

Ilustrasi. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kembali memperpanjang pembahasan Rancangan Undang-undang tentang Terorisme. RUU ini sedianya disahkan pada masa Persidangan IV tahun 2017-2018 yang berakhir Kamis (26/4/2018) hari ini.

Ketua Pansus RUU Terorisme, Muhammad Syafii mengatakan, perpanjangan pembahasan dilakukan karena DPR dan Pemerintah belum sepakat poin mengenai definisi terorisme.

Syafii menjelaskan, definisi terorisme versi pemerintah yakni tindakan kejahatan dengan maksud menimbulkan ketakutan masif, korban massal dan merusak objek vital yang strategis. Sementara DPR menginginkan definisi tersebut ditambah dengan motif politik yang bisa menggangu keamanan negara.

"Makanya kita tak sepakat kalau hanya sampai merusak objek vital yang strategis lalu clue-nya dimana mengatakan seseorang itu teroris. Enggak ada. Pemerintah juga belum satu kata. Banyak yang setuju dengan apa yang menjadi pikiran Panja DPR," kata Syafii di Komplek Parlemen RI, Kamis (26/4/18).

Baca juga:

Kata Syafii, unsur-unsur di pemerintahan pun belum sepenuhnya satu kata soal definisi terorisme. Misalnya, klaim dia, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kementerian Pertahanan yang lebih setuju dengan definisi yang diajukan DPR.

"Ini dari pihak Densus yang kemudian tidak ingin ada clue itu. Jadi siapa saja yang menurut mereka cocok dibilang teroris, teroris. itu kan enggak benar."

Syafii menganggap, definisi yang diajukan pemerintah membuat kriteria seseorang dinyatakan sebagai teroris jadi tak jelas. Sehingga berpotensi membahayakan sebab menurutnya kelak siapapun yang melakukan tindak pidana bisa ditetapkan sebagai teroris. Ia pun mempertanyakan motif pemerintah yang membuat penetapan tindakan yang tergolong terorisme seolah menjadi lebih mudah.

"Saya melihat ada semacam keinginan perluasan untuk menetapkan siapa saja bisa menjadi teroris." 

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Puasa kali ini bertepatan dengan masa kampanye pilkada 2018