Satu Peserta Meninggal, Petani Kendeng akan Lanjutkan Aksi Semen Kaki

"Nanti kalau betul-betul ditambang, yang korban kan warga, rakyat. Itu pasti perang. Yang rugi rakyat, juga negara."

Selasa, 21 Mar 2017 15:42 WIB

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Petani Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah yang menolak pabrik PT. Semen Indonesia menyatakan komitmennya melanjutkan aksi menyemen kaki, meski ada seorang peserta yang  meninggal. Seorang peserta aksi, Siti Muryati, menyatakan, aksi itu hanya terhenti sementara karena saat ini para petani sedang dalam masa berkabung

Kata dia,  rombongan petani Kendeng akan kembali ke Jakarta untuk menggelar aksi semen kaki lagi, karena operasi pabrik itu akan memicu konflik yang lebih besar.

"Padahal Pegunungan Kendeng itu letaknya berdampingan dengan rumah penduduk, dengan tanah-tanah warga semuanya. Nanti kalau betul-betul ditambang, yang korban kan warga, rakyat. Itu pasti perang. Yang rugi rakyat, juga negara. Tolong dipikirkan. Pasti perang, warga," kata Siti di kantor LBH Jakarta, Selasa (21/03/17).

Siti mengatakan, seluruh petani di Pegunungan Kendeng berduka atas meninggalnya Patmi. Sehingga, saat ini semua peserta aksi yang di Jakarta akan kembali pulang ke Pati dan Rembang. Kata dia, belum ada kepastian kapan aksi semen kaki jilid ketiga akan berlangsung.

Siti berujar, dia bersama Patmi selama ini telah berjuang untuk mempertahankan Pegunungan Kendeng. Kata dia, petani Kendeng sudah berjalan kaki  dari Pati menuju Semarang sampai dua kali, juga ke Ki Ageng Ngerang ke Pati hingga tiga kali. Kini, para petani juga ke Jakarta untuk aksi mengecor kaki di depan Istana Merdeka juga sampai dua kali dan tak ada sikap berarti dari pemerintah.

Sementara itu anggota Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Koko mengatakan, Patmi merupakan padma atau bunga bagi para petani Kendeng. Kata dia, meninggalnya Patmi justru memperbesar semangat para petani itu memperjuangkan tanah leluhurnya.

"Kita semua pasti akan mati. Cuma, kita yang bisa memilih jalan mana yang akan dipilih, jalan mencintai ibu pertiwi atau mendurhakai bumi pertiwi. Semoga dengan pulangnya Bu Patmi, seorang penjuang perempuan yang tangguh dan berani dari Pegunungan Kendeng adalah awal momentum muncul dan tumbuhnya bunga perlawanan dari seluruh penjuru nusantara," kata Koko di kantor LBH Jakarta, Selasa (21/03/17).

Koko mengatakan, meninggalnya Patmi bagi petani Kendeng menjadi momentum untuk memperbesar semangat untuk mencari keadilan atas nasib mereka sendiri, karena tidak adanya pembelaan dari pemerintah. Selain itu, kata dia, meninggalnya Patmi juga akan menjadi motivasi besar bagi para petani Kendeng untuk memperjuangkan tanah leluhur mereka.

Padmi, warga Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati meninggal  dini hari tadi, saat perjalanan menuju Rumah Sakit Carolus Jakarta. Padmi merupakan salah satu warga yang ikut mengecor kakinya dengan semen. Aksi ini menuntut pencabutan izin lingkungan pabrik semen.

Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR