Penembakan di Yapen, Komnas HAM Minta Polisi Beri Rasa Aman

"Ternyata masih ada rasa takut itu walaupun sebagian sudah mulai kembali, kita dorong terutama temen-teman kepolisian untuk menciptakan suasana yang aman di sana,”

Selasa, 28 Mar 2017 11:45 WIB

Jenazah diduga Michael Marani korban penembakan aparat di distrik Angkaisera kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. (Sumber: FB Benla)


KBR, JAKARTA- Sebagian warga Distrik Angkaisera, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua telah kembali ke rumah mereka pascakejadian tewasnya Michael Marani, yang ditembak oleh pasukan gabungan TNI-Polri pada Senin (27/03) lalu.  Maneger Nasution anggota Komnas HAM mengatakan perwakilannya di Papua sudah berupaya untuk membujuk warga supaya tidak takut pulang.

Manajer meminta   aparat kepolisian memberi rasa aman pada warga setempat.
 
“Ketakutan itu masih ada di warga. Kita mendorong sebetulnya supaya justru diciptakan suasana baru sehingga rasa takut itu mulai pulih dan masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa,” ujar Maneger, saat dihubungi KBR, Selasa (28/03).

Maneger melanjutkan, "jadi memang negara harus menciptakan rasa aman itu. Karena ternyata masih ada rasa takut itu walaupun sebagian sudah mulai kembali, kita dorong terutama temen-teman kepolisian untuk menciptakan suasana yang aman di sana."

Maneger menyayangkan  kekerasan yang masih terjadi di tengah upaya pemerintah yang ingin menyelesaikan sejumlah kasus di Papua. Ia berpendapat  seharusnya penyelesaian masalah yang sedang dihadapi bisa dilakukan dengan berdiskusi dan melakukan pendekatan lebih bermartabat. 
 
“Kami juga meminta pengusutan kasus ini hingga selesai agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dan negara harus menjamin keamanan warga yang sempat lari ke hutan itu. Itu 3 prinsip dasar yang kita sampaikan ke pemerintah,” ujar Maneger.
 

Kronologis

Sementara itu Pejabat Gerakan Pembebasan Papua (UMLWP) Markus Haluk mengatakan, jenazah Michael sudah diserahkan kepada keluarkan semalam. Kata Markus, Michael akan dimakamkan secara adat.

"Saksi mata mengatakan, begitu mengepung, melakukan penembakan, mematikan lampu, jadi tidak tahu apa yang terjadi. Setelah itu, menyita, mengambil barang-barang almarhum, termasuk uang, dan dibawa ke kantor polisi," kata Markus kepada KBR, Selasa (28/03/17).  

Markus melanjutkan, "Dia saat itu menggendong anak. (Sekarang jenazahnya bagaimana?) Tadi malam sekitar jam 8 diserahkan kepada keluarga, dan rencananya siang ini akan dimakamkan. (Dimakamkan secara adat?) Iya, siang ini."

Markus mengatakan, baku tembak Michael berlangsung   satu jam. Kata Markus menurut keterangan tetangga yang menyaksikan, pada Senin 27 Maret 2017, rumah mertua Michael yang berada Kampung Kontiunai, Distrik Angkaisera, Kepulauan Yapen, didatangi sekitar 20 orang anggota TNI dan Polri menggunakan enam mobil pukul 01.00 dini hari waktu setempat.

Markus menceritakan, aparat bersenjata  lengkap  lantas mengepung Michael yang tengah menggendong anaknya yang berumur sekitar tiga tahun  di beranda rumah. Saat itu, Michael tengah  bersama beberapa orang tetangga  tiba-tiba polisi menembak hingga tewas. Kata Markus, sama sekali tak ada perlawanan dari Michael.

Markus melanjutkan, setelah menembak Michael, beberapa anggota tim gabungan itu memasuki rumah dan mematikan lampu. Saat itulah, mereka mengambil beberapa barang milik Michael, termasuk sejumlah uang. Selang satu jam, tim gabungan meninggalkan kediaman Michael sambil membawa jenazahnya dan mertuanya ke kantor polisi. Sedangkan warga kampung, termasuk istri Michael sambil menggendong anaknya, bersembunyi di hutan.

Kata Markus pasca   diinterogasi selama 18 jam, mertua Michael diizinkan pulang pada pukul 20.00 WIT.  Jenazah Michael juga diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan.

Sebelumnya Kepolisian Papua menyebut penembakan dilakukan karena Michael melawan.  Antara menulis, pasukan kepolisian saat itu  dipimpin Kapolres Kepulauan Yapen   Darma Suwandito. Penembakan terjadi setelah sebelumnya tim gabungan melakukan pengejaran terhadap kelompok itu. Michael disebut  masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polres Kepulauan Yapen dan saat insiden tersebut, Maikel sedang sembunyi di rumah mertuanya.

"Saat hendak ditangkap korban melakukan perlawanan hingga tewas tertembak," ujar  Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Kamal yang dihubungi Antara melalui telepon selularnya, Senin (27/03)

Dalam peristiwa itu kepolisian menyita   barang bukti satu pucuk senapan   jenis SS1, sembilan buah magazine SS1, sangkur, rompi, bendera Bintang Kejora, 13 butir amunisi revolver, 10 butir amunisi karet 229 butir,  satu pucuk senjata angin dan sejumlah uang.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur