Lokasi Sekitar Gereja Santa Clara Dijaga 1 Kompi Polisi

Langkah tersebut untuk memastikan tidak ada upaya penyegelan, pengrusakan dan pembakaran gereja.

Minggu, 26 Mar 2017 18:16 WIB

Pembangunan Gereja Santa Clara. (Foto: KBR/ Ade Irmansyah)


KBR, Jakarta - Kepolisian Resort Bekasi Kota menerjunkan 100an personil untuk berjaga di sekitar lokasi pembangunan Gereja Santa Clara di Jalan Lingkar Utara, Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Pembangunan gereja itu sebelumnya ditolak sejumlah Ormas Islam. Pada Jumat (24/3/2017) lalu, mereka berunjuk rasa menuntut pencabutan izin gereja. Pembangunan itu dituding tak melibatkan warga sekitar. Aksi berlangsung ricuh, polisi mengaku terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata.

Kepolres Metro Bekasi Kota Hero Henrianto mengatakan, ratusan personilnya akan berjaga di sekitar lokasi hingga kondisi benar-benar aman. Langkah tersebut untuk memastikan tidak ada upaya penyegelan, pengrusakan dan pembakaran gereja.

"Evaluasi ya kalau nanti terjadi unjuk rasa yang sama pastinya kita akan pertebal pasukan, untuk mengantisipasi lonjakan massa," ujarnya kepada KBR, Minggu (26/3/2017).

Baca juga:

"Kami akan berupaya untuk bertahan. Jangan sampai nanti dirusak, dibakar atau gimana. Untuk pasukan yang ada di sana, satu kompi ya. Kalau sudah kondusif, kita cabut," tambahnya lagi.

Hero melanjutkan, kepolisian Bekasi takkan lagi melakukan mediasi dengan kelompok penolak pembangunan gereja. Sebab kata dia, sengketa pembangunan gereja ini sudah ditangani pihak Pemerintah Kota.

"(Akan jadi fasilitator?) tidak. Karena hal itu sudah dilakukan pendahulu saya sebelumnya. Kami lihat dari pihak Unras (unjuk rasa) permasalahan ini menjadi urusan mereka dan pihak kotamadya. Dan sebenarnya sebelum unras ini kita sudah mediasi dengan pihak pengunjuk rasa. Beberapa tokoh sudah kami datangi, untuk unras damai. Tapi akhirnya, ricuh."

Baca juga:

Pengurus Gereja Santa Clara menyatakan, mengantongi izin sejak Juli 2015. Pembangunan gereja ini diperlukan mengingat jumlah jemaat yang kini mencapai 9000 orang. Sedangkan selama ini, mereka beribadah dalam ruko berkapasitas 300 orang saja.



Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!