Sejumlah Mahasiswa dan aktivis di Palu Sulawesi Tengah menggelar aksi solidaritas menyemen kaki, Rabu (22/03). (Foto: KBR/Aldrin)


KBR, Palu-  Aktivis dan mahasiswa di Palu, Sulawesi Tengah menggelar aksi solidaritas untuk menuntut dihentikannya pabrik semen  di pegunungan Kendeng, Rembang Jawa Tengah.   Mereka melakukan aksinya dengan menyemen kaki yang diwakili oleh empat orang.

Mereka beraksi  tepat di depan kantor DPRD Sulawesi Tengah. Empat orang relawan, di antaranya perempuan ikut menyemen kaki sebagai  bentuk dukungan mereka terhadap petani Kendeng, Jawa Tengah.  Dalam orasinya, mahasiswa mendesak agar Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Purnomo segera mencabut kembali izin Semen Indonesia.

Selain aksi  solidaritas untuk petani Rembang yang menolak pembangunan pabrik semen, aksi mahasiswa dan aktivis ini juga untuk memperingati hari air sedunia yang jatuh pada hari ini. Para pendemo  mendesak penghentian privatisasi sumber daya alam, menghentikan konservasi hutan  untuk industri ekstraktif, dan hentikan privatisasi air.

“Ini merupakan aksi solidaritas kami untuk menuntut Presiden dan Gubernur Jawa Tengah agar menghentikan izin pabrik semen di Rembang. kami juga akan terus melakukan kampanye-kampanye soal penolakan-penolakan izin serupa. Untuk di wilayah Sulawesi Tengah sendiri, kami juga menuntut perampasan hak lahan dari petani untuk wilayah kelapa sawit.” Ungkap Abdy Koordinator  aksi solidaritas.

Aksi ini bentuk kekecewaan kepada Presiden Jokowi dan Gubernur Jawa Tengah yang telah menerbitkan kembali izin pabrik Semen Indonesia. Penerbitan izin itu mendorong petani Kendeng menggelar aksi menyemen kaki di depan Istana Kepresidenan. Setelah sepekan lebih menggelar aksi,  kemarin, Patmi salah satu peserta meninggal.


Editor: Rony Sitanggang

  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!