Penyerangan Tokoh Agama, Menag Minta Polisi Serius Ungkap Motif

"Kita berharap peristiwa ini betul-betul menjadikan aparat penegak hukum kita lebih serius lagi untuk mengungkap motif di balik peristiwa ini.

Selasa, 13 Feb 2018 10:05 WIB

Ilustrasi

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin mengecam peristiwa penyerangan terhadap sejumlah pemuka agama yang terjadi akhir-akhir ini. Dia meminta aparat kepolisian mengungkap motif dibalik penyerangan-penyerangan tersebut, agar masyarakat tidak berspekulasi.

"Kita berharap peristiwa ini betul-betul menjadikan aparat penegak hukum kita lebih serius lagi untuk mengungkap motif di balik peristiwa ini. Tentu tidak cukup sebatas memberikan informasi, ini dilakukan oleh orang hilang ingatan, atau tidak waras, atau gila dan seterusnya. Perlu ada pengungkapan yang lebih jelas, apa motif di balik motif peristiwa-peristiwa ini," ujar Lukman di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (12/2).

Tindakan kekerasan yang terjadi belakangan menurut dia tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Dia mengimbau masyarakat menyerahkan sepenuhnya proses hukum para pelaku kepada kepolisian. Lukman berharap masyarakat tidak terpancing dan membalas serangan yang terjadi.

Peristiwa ini juga menurut dia menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Salah satu caranya menambah aparat penjagaan dan memasang kamera pengawas. Dia berpendapat keamanan para pemuka agama dan rumah ibadat merupakan tanggungjawab seluruh masyarakat.

"Itu cara, ikhtiar kita, dalam rangka tadi itu. Dalam meningkatkan kewaspadaan, keamanan kita bersama, pemasangan CCTV, apa menambah penjaga satpam, dan sebagainya. Itu adalah ikhtiar untuk bagaimana kita semakin waspada."

Sebelumnya kepolisian Jakarta menangkap tiga orang pelaku pengeroyokan pemuka agama di Palmerah, Jakarta Barat. Juru Bicara Polda Argo Yuwono mengatakan, penganiayaan terhadap seseorang yang dianggap pengajar agama Islam bernama Abdul Basit itu terjadi hanya karena pelaku tidak suka ditegur oleh Basyit.

"Jadi itu tetangga. Saling kenal antara pelaku dengan korban. Karena setiap malam pelaku mengganggu, lalu ditegur, ketiga kalinya, malah melakukan penganiayaan," kata Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (15/2).

Tiga orang itu, dua di antaranya masih berusia di bawah 18 tahun. Satu orang lainnya, bernama Yuda alias Bolang berusia 19 tahun.

Argo menjelaskan, pengeroyokan terhadap Basyit terjadi pada, Sabtu (10/2), sekitar pukul 23.30 WIB. Kejadiannya berlangsung di Jalan KH. Syahdan Rt.006/012, Palmerah Jakarta Barat. Penganiayaan terhadap Basyit bermula ketika dia menegur para tersangka yang berkerumun di depan rumah korban, dekat musala Al-Ikhlas. Para tersangka bermain sehingga mengganggu aktivitas warga dan mushola.

Basyit sudah menegur mereka sebanyak dua kali. Namun peringatakan ketiga, para tersangka tidak terima dan langsung menyerang korban. Argo mengatakan, pelaku sebenarnya berjumlah 11 orang.

"Pelaku berjumlah 11 orang, rata rata anak di bawah umur. Tiga di antaranya saat ini sudah diamankan di Polres Jakarta Barat," kata dia.

Editor: Rony Sitanggang  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.