Guru Tewas Dipukul Murid, Ini Kata Jokowi

"Baru saja kita melihat meninggalnya guru SMK di Kabupaten Sampang, Bapak Ahmad Budi Cahyono menjadi catatan besar kita."

Rabu, 07 Feb 2018 08:18 WIB

Sianit Sinta menunjukkan foto mendiang suaminya Ahmad Budi Cahyanto guru SMAN 1 Torjun yang tewas dipukul siswanya sendiri, di Desa Tanggumung, Sampang, Jawa Timur, Sabtu (3/2). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo menilai kematian guru honorer SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Ahmad Budi Cahyono karena dianiaya muridnya, membuktikan  pendidikan karakter masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal itu Jokowi sampaikan di depan para guru dan kepala dinas di seluruh Indonesia dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan.

Jokowi mengatakan, tindakan murid menganiaya gurunya menunjukkan ada yang keliru dalam sistem pendidikan di Indonesia. Padahal, kata dia, pendidikan karakter yang kuat adalah cara membentuk bangsa yang berbudaya.

"Akhir-akhir ini kita menyaksikan betapa pendidikan karakter, budi pekerti, masih menjadi PR besar dalam proses pendidikan kita. Baru saja kita melihat meninggalnya guru SMK di Kabupaten Sampang, Bapak Ahmad Budi Cahyono menjadi catatan besar kita. Ada apa ini? Kenapa ini terjadi? Kemudian aksi bullying antarpelajar di beberapa daerah, termasuk di Jakarta yang juga banyak sekali terjadi. Ini harus juga menjadi catatan kita," kata Jokowi di Gedung Pusdiklat Kemendikbud, Depok, Selasa (06/02/2018).

Jokowi mengatakan, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak mendapat pendidikan karakter. Alasannya, hingga saat ini masih banyak ditemukan kasus perisakan hingga tawuran oleh pelajar di sekolah.

Jokowi berujar, tanggung jawab pendidik tak hanya soal pendidikan akademik, melainkan juga pendidikan karakter. Menurut Jokowi, guru dan dinas pendidikan harus berhati-hati agar anak-anak tak kehilangan akar budaya lokal. Meski begitu, kata dia, anak-anak tetap harus dikenalkan pada ilmu pengetahuan modern dan teknologi agar siap memenangkan persaingan global.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.