Tingkat Imunisasi Rendah, 16 Kabupaten di Papua Rawan KLB Penyakit

Pemerintah akan mengejar target imunisasi untuk anak-anak Papua. Ditargetkan ada 12 ribu anak yang akan mendapat imunisasi dasar lengkap, dalam tiga bulan mendatang.

Senin, 29 Jan 2018 18:52 WIB

Ilustrasi. Barnabas Syuru (3 tahun) dirawat di RSUD Agats, Kabupaten Asmat karena gizi buruk, Jumat (19/1/2018). (Foto: KBR/Katarina Lita)

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 16 kabupaten selain Asmat yang rawan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit karena tingkat imunisasi rendah. 

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan belasan daerah itu rawan KLB karena tingkat imunisasi anak di bawah 50 persen, yakni di kisaran 30 hingga 40 persen, dari target pemerintah 80 persen. 

Padahal, kata Nila Moeloek, penanganan pasien campak di Kabupaten Asmat saja sudah sangat sulit karena kebanyakan juga mengalami gizi buruk.

"Problemnya, anak kurang gizi ini kalau langsung diberi makan juga tidak mungkin. Harus pelan-pelan. Kita tidak bisa sembarangan mengobati. Sungguh pelik, kalau sudah jatuh dalam keadaan seperti ini. Dan yang menjadi masalah sekarang, mereka sudah mau pulang. Bagaimana makanannya nanti? Nanti bisa jatuh sakit lagi. Kami juga harus mengantisipasi 10 daerah lain yang berpotensi seperti ini," kata Nila di kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Senin (29/1/2018).

Baca juga:

Kejar target imunisasi

Nila Moeloek mengatakan tingkat imunisasi yang rendah membuat peluang wabah penyakit semakin besar. Daerah yang rawan KLB antara lain Kabupaten Yahukimo, Pegunungan Bintang, Nduga, Tolikara, Lanny Jaya, Puncak, Puncak Jaya, Mamberamo Tengah, Mamberamo Raya, Waropen, Kabupaten Supiori, Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya, Paniai, dan Yalimo. 

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh mengatakan pemerintah akan mengejar target imunisasi untuk anak-anak Papua. Dia menargetkan, ada 12 ribu anak yang akan mendapat imunisasi dasar lengkap, dalam tiga bulan mendatang. 

Muhammad Subuh mengatakan wabah yang diwaspadai pemerintah di Papua tidak hanya campak, melainkan juga penyakit akibat virus lainnya, seperti polio, difteri, dan hepatitis.

Vaksinasi di Papua yang rendah, kata Subuh, bukan karena masyarakat menolak vaksin. Kata Subuh, vaksinasi anak itu juga bukan menghadapi kendala karena pemukiman warga yang terpencil, melainkan karena penduduk tinggal menyebar sehingga tenaga kesehatannya terbatas harus mendatangi kampung ke kampung. 

Hingga 28 Januari 2018, tercatat ada 12.398 anak di Kabupaten Asmat telah diperiksa tim medis. Dari jumlah tersebut, terdapat 646 anak terkena campak dan 144 anak menderita gizi buruk. 

Selain itu, ada 25 anak suspek campak, serta 4 anak terkena campak dan gizi buruk yang dirawat di RSUD Agats. Hingga kini, tercatat 71 anak meninggal dunia akibat campak dan gizi buruk.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.