Rapim TNI-Polri, Alasan Jokowi Perintahkan Rangkul Rakyat

"Beliau juga memerintahkan agar pimpinan polri dan TNI meningkatkan profesionalitas dan kesejahteraan prajurit,"

Selasa, 23 Jan 2018 14:41 WIB

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kanan) meninggalkan ruangan seusai memberikan pembekalan pada Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-Polri di Mabes TNI Cilangkap, Jakart

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR,Jakarta- Presiden Joko Widodo meminta TNI-Polri   lebih mendekatkan diri pada masyarakat. Kata   Kepala Kepolisian Republik Indonesia Tito Karnavian permintaan tersebut disampaikan Jokowi   dalam sambutan pembukaan Rapim TNI-Polri  di Mabes TNI, Cilangkap.

"Beliau juga memerintahkan agar TNI dan Polri tidak eksklusif, tapi merangkul semua elemen masyarakat, elemen rakyat. Karena TNI dan polri tanpa dukungan rakyat tidak akan maksimal. Ini semua dirangkul untuk mendinginkan suasana situasi politik yang cenderung akan memanas. Kemudian beliau juga memerintahkan agar pimpinan polri dan TNI  meningkatkan profesionalitas dan kesejahteraan prajurit," ujar Tito, dalam konferensi pers di Mabes TNI, Selasa (23/01/2018).

Selain itu kata Tito, Presiden meminta agar TNI dan Polri membuat peta daerah rawan konflik yang tepat,agar aparat penegak hukum bisa hadir dan mengantisipasi  konflik.

"Dilakukan langkah-langkah persuasif untuk menyelesaikan konflik dibanding dengan cara-cara responsif represif. Jadi proaktif menyelesaikannya sebelum potensi konflik mengembang. Kemudian beliau juga meminta agar Polri TNI bersinergi dalam menyelesaikan permasalahan potensi konflik itu sendiri. Sinergi dilakukan di semua lini dari atas sampai polres, Kodam, Koramil, Polsek dan babinkamtibmas," ujar Tito.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!