Masa Peralihan Larangan Cantrang, Susi Bentuk Satgas

"Mereka tetap bisa melaut dengan ketentuan-ketentuan tidak keluar dari laut Jawa, Pantura."

Kamis, 18 Jan 2018 12:37 WIB

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kedua kiri) menemui para nelayan saat berdemo soal larangan penggunaan alat penangkap ikan cantrang di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/1). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan akan segera melakukan teknis peralihan penggantian alat tangkap bagi nelayan pasca pertemuan dengan Presiden Jokowi dan perwakilan nelayan, Rabu (18/01).   Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengatakan pemberlakuan perpanjangan izin penggunaan cantrang hanya  bagi nelayan yang berada di Kota Tegal, Kabupaten Batang, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Lamongan.

"Selama masa peralihan mereka tetap bisa melaut dengan ketentuan-ketentuan tidak keluar dari laut Jawa, Pantura. Kemudian tidak menambah kapal, harus ukur ulang, semua terdaftar satu per satu." ujar Susi di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis (18/01).

Dalam masa peralihan penggunaan alat tangkap itu, Susi  akan membentuk Satgas pengalihan alat tangkap dengan pelaksana tugas Direktorat Jenderal Tangkap, pengawasan oleh Direktorat Jenderal PSDKP, dan diketuai oleh eks Wakasal Widodo.



Sementara itu, Direktur Jenderal Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja mengatakan bahwa satgas peralihan ini nantinya akan mendampingi secara perseorangan.

"Ada satgas untuk peralihan, jadi nanti kita akan turun ke lapangan kembali untuk memverifikasi ulang. Masih adakah data sisa-sisa nelayan yang menggunakan alat tangkap cantrang.Tadi estimasi awal masih sekitar 1200   tapi kita harus cek by name by address siapa yang masih menggunakan alat tangkap ini. Nanti kita lihat satu per satu persoalannya," ujar Sjarief di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis (18/01).

Sjarief menjelaskan pemetaan itu antara lain jika nelayan masih menggunakan cantrang di bawah 10 GT akan disiapkan alat pengganti. Sedangkan  bagi nelayan yang kapasitas kapalnya antara 10 - 30 GT akan didampingi untuk mendapatkan fasilitas dari pemerintah.

Sjarief pun berjanji kepada para nelayan dalam melakukan pendampingan akan memberikan pelatihan penggunaan alat tangkap jenis baru kepada para nelayan. Saat ini, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan tercatat 9021 telah beralih menggunakan alat tangkap jenis baru yang lebih ramah lingkungan.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.