Sisa tiang-tiang bangunan kuno di Kota Palmyra, Suriah. (Foto: James Gordon/Creative Commons/CC-BY-SA 20)

KBR - Kelompok teroris ISIS kembali menguasai dan mengambil alih Kota Tua Palmyra di Suriah.

Informasi itu disampaikan media resmi pemerintah Suriah, sayap media pendukung ISIS serta kelompok pemantau hak asasi manusia.

Kantor berita Suriah SANA memberitakan milisi ISIS berjumlah sekitar 4,000 orang menyerbu kota Palmyra dari berbagai arah, meski mereka juga banyak yang tewas karena gempuran pasukan udara Suriah.

Milisi ISIS masuk Palmyra dari arah Kota Raqqa yang berada di bagian utara dan kota Deir Ezzor di timur Suriah.

Informasi lain dari The Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), LSM pemantau hak asasi manusia yang bermarkas di Inggris. SOHR mengkonfirmasi Kota Tua Palmyra kembali jatuh ke tangan ISIS pada hari Minggu (11/12/2016), setelah pasukan Suriah ditarik keluar dari kota itu.

Pemerintah Suriah dan tentara sekutu sebelumnya memobilisasi sekitar 40 ribu tentara mereka untuk mendukung serangan darat ke Aleppo.

"Saya pikir tentara Suriah tidak akan menarik pasukan dari Aleppo ke Palmyra lagi dan mempertaruhkan resiko kehilangan Aleppo," kata Rami Abdurrahman, Direktur SOHR.

Militer Suriah dan pesawat tempur dari Rusia akhirnya menggempur balik kelompok ISIS tersebut, meski Palmyra tetap dikuasai ISIS.

Kantor berita resmi Rusia Sputnik menyebutkan sekitar 300 milisi ISIS tewas. Rusia juga mengklaim berhasil menghancurkan puluhan kendaraan tempur ISIS seperti tank tempur, kendaraan dengan persenjataan berat dan lain-lain.

Media pendukung ISIS, Amaq juga memberitakan ISIS telah 'mengambil alih sepenuhnya' kota Palmyra. Ini merupakan pengambialihan kedua SIS terhadap kota tua yang memiliki banyak situs kuno berusia 4,000 tahun itu.

Kota Kuno

Kota Palmyra sebelumnya dikuasai ISIS pada 2015, namun kemudian berhasil diambil alih tentara Suriah pada Maret 2016. Namun kelompok ISIS kembali menggeruduk kota itu ketika pasukan Suriah sedang fokus melakukan serangan darat ke Kota Aleppo baru-baru ini.

Palmyra merupakan kota kuno bersejarah yang berdiri sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Palmyra dinyatakan oleh Badan PBB untuk Kebudayaan dan Pendidikan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada Mei tahun lalu.

Sebelum perang sipil di Suriah dimulai 2011 lalu, Palmyra merupakan salah satu tujuan utama wisata di Suriah.

Saat dikuasai ISIS selama 10 bulan, kelompok itu menghancurkan berbagai bangunan dan benda-benda purbakala termasuk bangunan Arch of Triumph berusia 1,800 tahun dan Candi Baalshamin berusia hampir 2000 tahun.

Pemerintah Suriah juga menyebut ISIS menghancurkan dua bangunan suci umat Islam, yaitu tempat suci dan makam yang disebut-sebut sebagai tempat dimakamkannya sepupu Nabi Muhammad SAW.

Otoritas Pemerintah Suriah di bidang benda purbakala dan museum, Maamoun Abdlkarim mengatakan pemerintahnya sebelumnya sudah berusaha mengirimkan sebagian dari isi museum di Palmyra ke Kota Damaskus di bagian selatan. Meski begitu, ia tetap khawatir ISIS akan terus menghancurkan sisa-sisa reruntuhan bangunan peninggalan kuno di Palmyra.

Basis Strategis

Tahun lalu ISIS menderita kekalahan di Suriah dan Irak, dan kehilangan kota yang mereka kuasai pada 2014. Pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat mengklaim kini ISIS menghadapi perlawanan hebat dari pasukan Irak dan tentara koalisi di Mosul, Irak.

Pasukan koalisi mengklaim ISIS kini terus digempur dari berbagai tempat. Pasukan pemerintah Suriah dipimpin etnis Kurdi dan mendapat sokongan dari tentara Amerika juga bergerak dari utara menuju selatan ke Kota Raqqa, Suriah. Sementara tentara Turki yang mendukung kelompok oposisi Suriah bergerak ke utara ke Kota al-Bab, salah satu basis ISIS di utara Suriah.

Diperkirakan ISIS menjadikan Palmyra yang berada di tengah-tengah antara Raqqa dan Damascus sebagai basis strategis mereka. Palmyra berada di tengah-tengah Suriah, yang menghubungkan Damaskus ibukota Suriah dengan wilayah timur Suriah dan negara tetangga Irak. Wilayah oase gurun ini dikelilingi hutan palem.

Kondisi ini membuat Rusia meradang. Kantor berita SANA memberitakan, Kementerian Pertahanan Rusia menyalahkan pasukan koalisi yang menurunkan intensitas operasi di Raqqa, sehingga membuat ribuan milisi ISIS bisa keluar dari Kota Mosul yang berada di timur Raqqa.

Kelompok The Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) serta jaringan The Palmyra Coordination menyebutkan milisi ISIS melakukan serangan bercabang yang memaksa pasukan pemerintah Suriah melepaskan wilayah selatan.

Dari peta yang dilansir The Observatory, kawasan yang dikuasai ISIS meliputi timur, selatan dan utara Palmyra. ISIS menguasai sejumlah perbukitan strategis di sekitar Palmyra dan mulai masuk ke daerah-daerah pedesaan di Provinsi Homs yang berada di wilayah barat Palmyra. Padahal Homs hampir sebagian besar berada dalam kendali pemerintah Suriah. (CNN/FoxNews/BBC) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!