Antisipasi Dampak Perubahan Iklim, Singapura Bangun Unit Instalasi Penyulingan Air Laut ke

Singapura sebelumnya sudah membangun tiga unit instalasi penyulingan air laut. Dua diantaranya berada di Kota Tuas, di sebelah barat Singapura.

Kamis, 22 Des 2016 10:15 WIB

Ilustrasi instalasi penyulingan air laut di Dubai. (Foto: Starsend/Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Singapura bakal kembali membangun instalasi penyulingan air laut menjadi air tawar. Ini akan menjadi instalasi keempat yang dimiliki negara kota tersebut.

Perusahaan Keppel Infrastructure Holdings terpilih sebagai pemenang untuk mendesain, membangun, memiliki dan mengoperasikan pusat penyulingan tersebut. Perusahaan Air Minum pemerintah Singapura PUB menyatakan Keppel memenangi tender terbuka yang diikuti 16 perusahaan dari dalam dan luar negeri.

Rencananya pabrik penyulingan air laut yang berlokasi di Marina Timur itu selesai dibangun pada 2019 dan beroperasi pada 2020. Pabrik ini bakal menyuplai tambahan 30 juta galon air minum per hari untuk kebutuhan air bersih secara nasional.

Menurut perjanjian dengan PUB, perusahaan Keppel akan menyuplai air bersih ke PUB selama periode 25 tahun konsesi. Instalasi penyulingan ini terutama untuk menjamin pasokan air bersih di kawasan tengah dan timur Singapura.

Instalasi penyulingan air laut ini bakal menjadi yang pertama yang bisa mengolah air laut dan air tawar di daerah tangkapan air Marina Reservoir, menggunakan teknologi reverse osmosis (RO) dan teknologi membran terapan. Teknologi ini mirip dengan yang dipakai BUMN PUB di Singapura untuk memproduksi NEWater, air bersih langsung minum yang diklaim memiliki standar tinggi dan diolah dari air bekas pakai.

Pembangunan instalasi penyulingan air laut ini merupakan bagian dari proyek pemerintah Singapura yang ingin meningkatkan kapasitas penyulingan air laut hngga 85 persen dari kebutuhan air bersih di negara itu hingga 2060 mendatang.

Singapura berambisi memanfaatkan teknologi penyulingan air laut untuk memenuhi kebutuhan air bersih negara itu, guna mengantisipasi dampak perubahan iklim. Perubahan iklim bisa menyebabkan tidak stabilnya pasokan air bersih, terutama saat musim kemarau berkepanjangan.

Singapura sebelumnya sudah membangun tiga unit instalasi penyulingan air laut. Dua diantaranya berada di Kota Tuas, di sebelah barat Singapura. Dua unit pabrik penyulingan ini bisa memproduksi 100 juta galon air bersih per hari. Sedangkan satu lagi unit penyulingan air sedang dibangun, juga di Tuas, yang rencananya beroperasi 2017. Instalasi ke-3 ini bisa menyuplai tambahan air bersih sebanyak 30 juta galon air per hari.

Jika empat instalasi penyulingan itu beroperasi normal, instalasi itu bisa menyuplai 160 juta galon air per hari. Kebutuhan air di Singapura saat ini mencapai 430 juta galon per hari, dan kemungkinan meningkat dua kali lipat pada 2060 mendatang.

Salah satu waduk penampungan air Linggui Reservoir menyuplai setengah dari kebutuhan air di Singapura. Ketinggian permukaan air di waduk ini turun hingga 36 persen. Menteri Lingkungan Hidup Singapura Masagos Zulkifli mengatakan perubahan cuaca ekstrem saat ini bisa mengancam keberlangsungan persediaan air bersih.

Teknologi penyulingan air laut untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga dipakai di sejumlah negara yang kering, seperti Australia yang mengandalkan pengumpulan air hujan dengan bendungan. Menurut data Asosiasi Desalinasi Internaisonal, hingga Juni tahun lalu sudah ada 18 ribu unit instalasi penyulingan air laut beroperasi di dunia. Total air bersih yang diproduksi sebanyak 86 juta meter kubik perhari untuk memasok kebutuhan bagi 300 juta orang di dunia.

Instalasi penyulingan air laut terbesar adalah Ras Al Khair yang ada di Arab Saudi, dengan kapasitas satu juta meter kubik air bersih per hari.

Meski demikian penggunaan teknologi penyulingan air laut dianggap berat bagi pengusaha dan beresiko dalam investasi. Australia pernah berinvestasi sebesar dua miliar dolar Australia untuk membangun instalasi penyulingan air bersih di Sydney, ketika negara itu dilanda kekeringan parah. Pabrik itu hanya beroperasi dua tahun, karena setelah dua tahun, pada 2012 kekeringan berakhir dan hujan kembali turun memenuhi bendungan. (CNA/Straits Times/PUB.gov/ABC)  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Pecah Antrian, PT ASDP Merak Pisahkan Kendaraan Pemudik Dengan Kendaraan Niaga

  • Desa Sambirejo Timur Tolak Jenazah Pelaku Teror di Mapolda Sumatera Utara
  • Pengamat: Eks ISIS Harus Direhabilitasi Sebelum Kembali ke Masyarakat
  • Lima Hari Bertugas, Dokter Anestesi Ditemukan Meninggal Dunia

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?