'Hadiah Natal' untuk Trump, Presiden Obama Larang Penambangan Lepas Pantai di Atlantik dan

Para aktivis lingkungan berharap keputusan Presiden Barack Obama ini membuat pemerintahan Donald Trump maupun Kongres butuh waktu lama sekiranya ingin mengubah keputusan tersebut.

Rabu, 21 Des 2016 11:49 WIB

Presiden Amerika Serikat Barack Obama. (Foto: ANTARA)

KBR - Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengambil keputusan strategis yaitu melarang penambangan minyak dan gas lepas pantai di Atlantik dan Arktik. Larangan itu ditujukan untuk puluhan juta hektar lahan milik pemerintah federal.

Tindakan Obama itu menggunakan perangkat hukum yang jarang diketahui yaitu Outer Continental Shelf Lands Act, untuk melindungi sebagian besar wilayah laut Chukchi dan Beaufort di kawasan Arktik dan jaringan ngarai yang membentang dari Massachusetts hingga Virginia.

Keputusan itu dikeluarkan bersama Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pada pekan ini. Dengan keputusan itu, maka selama lima tahun ke depan siapapun dilarang melakukan penambangan atau eksplorasi di kawasan-kawasan tersebut.

"Tindakan ini, bersama-sama dengan langkah paralel dari Kanada, adalah untuk melindungi ekosistem sensitif dan unik yang tidak terdapat di daerah lain di muka bumi," demikian pernyataan Gedung Putih.

"Meskipun dengan standar keselamatan tinggi yang dimiliki oleh negeri kita, resiko tumpahan minyak seandainya ada eksplorasi di wilayah itu tetap tinggi, sementara kemampuan kita untuk membersihkan tumpahan minyak terbatas."

Gedung Putih menggambarkan keputusan Presiden Obama dan Perdana Menteri Trudeau itu untuk menjadikan kawasan terlarang bagi kegiatan pertambangan dan eksplorasi.

"Ini bukan keputusan sendiri. Kanada juga mengambil tindakan serupa untuk menghentikan aktivitas di perairan mereka. Bersama Kanada, kami mengirim pesan yang kuat kepada dunia dan memperkuat kembali komitmen kami untuk bekerja bersama," begitu keterangan dari Gedung Putih.

Gedung Putih menyatakan keputusan yang didasarkan pada Undang-undang Tahun 1953 itu tidak dapat dibatalkan oleh presiden berikutnya. Namun tidak jelas apakah keputusan ini bisa dibatalkan oleh Kongres Amerika Serikat yang dikuasai Presiden terpilih Donald Trump.

Sebelumnya, Obama juga menggunakan undang-undang tersebut untuk melindungi Teluk Bristol di Alaska pada 2014, dan pantai Arktik di Alaska pad 2015 dari kegiatan eksplorasi. Total Presiden Obama sudah melindungi sekitar 50 juta hektar kawasan ekosistem dalam dua tahun terakhir.

Keputusan Obama itu memicu protes dari berbagai pihak pendukung Donald Trump. Senator Ted Cruz dari Partai Republik menyebut keputusan Obama itu sebagai penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Di Twitter, Ted Cruz menggunakan ungkapan 'singkirkan telepon dan bolpen Obama'.

Kritik juga datang dari American Petroleum Institute, asosiasi perdagangan dan industri migas terbesar di Amerika Serikat.

"Keputusan pemerintah mencoret kawasan lepas pantai Arktik dan Atlantik dari kegiatan pertambangan di masa depan mengabaikan Kongres, keamanan nasional, dan kesempatan kerja dengan bayaran baik bagi siapapun," kata Erik Milito salah satu direktur di American Petroleum Institute.

"Keamanan nasional kita bergantung pada kemampuan kita menghasilkan minyak dan gas alam di Amerika Serikat. Apa yang dilakukan pemerintah ini akan membawa kita ke jalan yang salah, hanya karena kita telah menjadi pemimpin dunia dalam upaya mengurangi emisi karbon," kata Erik.

Asosiasi itu juga meminta pemerintahan yang baru membatalkan keputusan Presiden Barack Obama itu.

Meski mendapat kritik dari kubu Partai Republik dan pengusaha, keputusan Presiden Obama itu juga mendapat pujian. Termasuk dari kelompok konsevatif yang menyebut langkah Obama itu sebagai hadiah liburan Natal.

Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam Amerika Serikat juga menyebut keputusan Presiden Obama itu sebagai keputusan bersejarah dan berani, karena menutup kawasan lepas pantai Atlantik dan Arktik dari kegiatan penambangan migas.

Milyuner San Francisco Tom Steyer yang mendirikan kelompok NextGen Climate Action baru-baru ini menulis ke pemerintahan Barack Obama.

"Pemerintahan Trump sangat berpotensi menimbulkan kerusakan serius bagi iklim kita. Namun dalam beberapa bulan sisa pemerintahannya, Presiden Obama bisa mengambil langkah konkret untuk memberi warisan bagi lingkungan," tulis Tom Steyer.

Para aktivis lingkungan berharap keputusan Presiden Barack Obama ini membuat pemerintahan Donald Trump maupun Kongres butuh waktu lama sekiranya ingin mengubah keputusan tersebut. (WhiteHouse.gov/Washington Post/Bloomberg) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Suap Dirjen Hubla, KPK Periksa Menhub

  • Dinas Kesehatan Nunukan Gratiskan Perawatan dan Beri Intensif 100 Ribu Perhari Bagi Orang Tua Balita Gizi Buruk.
  • Korut: Tak Ada Diplomasi Sebelum Rudal Kami Hantam AS
  • Napoli dan Benevento Ukir Rekor Baru di Liga Italia