Uni Eropa & 24 Negara Sepakat Buat Taman Konservasi Laut Terbesar Dunia

Namun, zona perlindungan itu hanya berdurasi 'pendek' untuk jangka waktu 35 tahun. Ini yang menjadi sorotan dari organisasi nirlaba World Wild Fund (WWF).

Jumat, 28 Okt 2016 08:45 WIB

Penguin Kaisar dan anaknya di Laut Ross, Samudera Selatan, Antarktik. (Foto: Brocken Inaglory/Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Uni Eropa dan 24 negara sepakat untuk membuat taman laut terbesar di dunia tepatnya di Laut Ross, di Benua Antarktika, di sebelah selatan Australia.

Taman Konservasi Laut Ross itu mencakup kawasan seluas 1,5 juta kilometer persegi lautan. Luasnya melebihi wilayah Prancis, Jerman dan Spanyol digabung menjadi satu.

Kawasan konservasi ini bakal ditetapkan dalam status "Zona Perlindungan Umum" yang melarang segala macam kegiatan penangkapan ikan.

Namun, zona perlindungan itu hanya berdurasi 'pendek' untuk jangka waktu 35 tahun. Ini yang menjadi sorotan dari organisasi nirlaba World Wild Fund (WWF).

"Menurut peraturan World Conservation Union (IUCN), area laut terlindungi haruslah permanen. Kami prihatin perjanjian Laut Ross ini tidak sesuai dengan standar ini," kata Manajer Ilmu Kelautan WWF Australia, Chris Johnson.

Kesepakatan itu ditandatangani 24 negara yang tergabung dalam Komisi Konservasi Sumber Daya Kehidupan Laut di Antarktika (CCAMLR), dalam pertemuan di Hobart, Australia, Jumat ini.

Kawasan taman Laut Ross ini bakal mencakup 12 persen dari Samudera Selatan yang menjadi rumah bagi 10 ribu spesies, termasuk penguin, paus, burung laut, cumi-cumi raksasa (Colossal Squid) hingga ikan monster gigi tajam (toothfish) Antarktika.

Kawasan perairan laut selatan menjadi kepedulian banyak negara karena wilayah ini sangat penting bagi keberlangsungan sumber daya alam dunia. Para ilmuwan memperkirakan Laut Selatan memproduksi 3/4 nutrien yang menyokong kehidupan di seluruh perairan laut dunia. Laut Selatan juga menjadi rumah bagi sebagian besar penguin dan paus di dunia.

Laut Ross merupakan laut terdalam di Samudera Selatan di Antartika, dimana para ilmuwan menyebutnya sebagai ekosistem laut utuh yang terakhir di muka bumi. Laut Ross dianggap sebagai laboratorium alami yang ideal dan pas untuk penyelidikan kehidupan di Antarktik dan bagaimana perubahan iklim mempengaruhi Planet Bumi.

Dengan adanya penetapan taman konservasi Laut Ross, maka tidak hanya melindungi populasi ikan dan habitat, tapi juga menjauhkan industri-industri dari lokasi itu.

Persetujuan proposal taman konservasi laut internasional ini tercapai setelah melewati lima tahun perundingan yang kerap gagal.

Rusia termasuk yang menyetujui proposal pembuatan taman konservasi laut ini, setelah sebelumnya negara itu menolak lima pengajuan proposal taman konservasi. Rusia sebelumnya memiliki industri penangkapan ikan monster gigi tajam (toothfish) Antarktik.

Para negara juga sepakat menetapkan zona seluas 233 ribu kilometer persegi sebagai Zona Riset Krill, sebagai lokasi yang hanya diperbolehkan untuk menangkap dan meneliti krill sejenis plankton seperti udang yang menjadi makanan hewan lebih besar, namun dilarang menangkap ikan sawfish (hiu todak/hiu gergaji).

Sementara ada zona lebih kecil seluas 110 ribu kilometer persegi yang ditetapkan sebagai Zona Riset Khusus, dimana peneliti diperbolehkan menangkap krill dan sawfish namun hanya untuk tujuan penelitian.

Tercapainya perundingan ini juga tidak lepas dari dorongan publik melalui petisi daring yang dimotori aktor Leonardo Di Caprio lewat situs kampanye Avaaz. Petisi itu menyerukan agar CCAMLR menetapkan kawasan Samudera Selatan, mulai dari Laut Ross hingga Antarktik Timur sebagai area perlindungan maritim terbesar di dunia. (Reuters/Guardian/ABC)

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Kuasa Hukum: Ada Gangguan di Otak Setnov

  • Beredar Surat Dari Novanto Soal Jabatannya, Fahri Hamzah: Itu Benar
  • Gunung Agung Meletus, Warga Kembali Mengungsi
  • Kasus PT IBU, Kemendag Bantah Aturan HET Beras Jadi Biang Penggerebekan