Ladang Opium Afghanistan Melonjak Drastis, Taliban Diuntungkan

Budidaya opium menguntungkan kelompok Taliban untuk mendanai kegiatan-kegiatan mereka. Produktivitas opium diperkirakan meningkat 43 persen tahun ini.

Minggu, 23 Okt 2016 14:49 WIB

Warga Afghanistan dan tanaman opium mereka. (Foto: Flickr/Creative Commons)

KBR - Pembudidayaan opium atau bunga poppy oleh kelompok Taliban di Afghanistan melonjak drastis dalam 20 tahun terakhir. Sekitar 91 persen pertanian opium berada di kawasan selatan, timur dan barat negara afghanistan.

Menurut data dari Kantor Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), dari survei tahunan, total luas lahan yang digunakan sebagai ladang budidaya opium di Pakistan meningkat 10 persen pada 2016. Lahan sebelumnya seluas 183 ribu hektar kini meningkat menjadi lebih dari 200 ribu hektar.

Pernyataan yang dilansir Direktur Eksekutif UNODC Yuri Fedotov dan dimuat Reuters mengatakan hasil survei PBB tersebut menunjukkan gejala mengkhawatirkan dalam upaya memerangi kejahatan narkoba.

Salah satu penyebab meningkatnya pertanian opium adalah sikap pemerintah Afghanistan yang melonggarkan pengawasan keamanan di sejumlah daerah, sehingga menurunkan tindakan-tindakan perang melawan narkoba.

Laporan PBB menyebutkan budidaya pertanian opium di Afghanistan juga menyebar ke daerah-daerah baru. Dengan begitu jumlah provinsi bebas dari tanaman opium kini turun, dari 14 provinsi menjadi 13 provinsi---dari total 34 provinsi di Afghanistan.

Budidaya opium menguntungkan kelompok Taliban untuk mendanai kegiatan-kegiatan mereka. Produktivitas opium diperkirakan meningkat 43 persen tahun ini.

Provinsi yang paling banyak membudidayakan opium antara lain Badghis, Kandahar, Uruzgan, Nangarhar dan Farah---yang kesemua wilayah itu dikuasai kelompok Taliban.

Upaya-upaya memberantas budidaya opium juga menghadapi penentangan dari warga.

"Pada tahun ini petani menolak operasi pemberantasan bunga poppy, dan mereka melakukan serangan langsung terhadap tim pemberantasan opium," begitu tulis laporan PBB.

Afghanistan merupakan produser opium terbesar dunia. Para petani opium kerap dipungut pajak oleh Taliban. Dana pajak itu digunakan Taliban untuk mendanai kegiatan melawan pemerintah dan pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). 

"Sebagian besar perang di Afghanistan didanai oleh pemasukan dari bunga poppy. Dimanapun Anda melihat ada tanaman poppy, disana Anda akan melihat perang," kata Baz Mohammad Ahmadi, Wakil Menteri Dalam Negeri Afghanistan bidang perang terhadap narkotika. (Reuters/Daily Mail) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.