Cina Protes, Angkatan Laut AS Duduki Laut Cina Selatan

Sebuah kapal penghancur milik Angkatan Laut Amerika Serikat memasuki wilayah Laut Cina Selatan.

Sabtu, 22 Okt 2016 17:54 WIB

Ilustrasi: Pasukan militer Amerika Serikat yang menaiki Kendaraan Perang Amfibi (AAV) bermanuver di Laut Cina Selatan. (Foto: Antara)

KBR - Pemerintah Cina mengecam aksi penerobosan pasukan Amerika Serikat ke wilayah sengketa di Laut Cina Selatan.

Sebelumnya, sebuah kapal penghancur milik Angkatan Laut Amerika Serikat memasuki wilayah Laut Cina Selatan. Pelayaran itu dilakukan di dekat Kepulauan Parakel, yang diklaim milik Cina. Akibatnya, konflik terjadi antara kedua negara tersebut.

Setelah kecaman tersebut, Pemerintah Cina mengerahkan dua kapal perang untuk memperingatkan Angkatan Laut AS agar segera meninggalkan wilayah tersebut.

Kapal-kapal Cina yang dikerahkan untuk mengusir kapal perang AS dari lokasi patroli adalah kapal perang Guangzhou dan Luoyang. Kementerian Pertahanan Cina menyatakan tindakan patroli oleh kapal perang AS merupakan laku provokatif.

"Ini adalah perilaku ilegal yang serius, dan sangat provokatif, Kementerian Pertahanan Cina menentang tindakan ini dan akan mengajukan protes kepada pihak AS" kata Kementrian Pertahanan Cina seperti dilansir Reuters, Sabtu (22/10/2016).

Sementara pihak Pentagon berdalih tindakan kapal perang USS Decatur itu dilakukan sebagai aksi protes atas kebijakan Cina yang membatasi hak kebebasan navigasi di perairan Laut Cina Selatan.

Baca juga:

Lagipula menurut Pentagon, Decatur berpatroli rutin tanpa didampingi kapal lain dan tidak menimbulkan insiden. Juru Bicara Gedung Putih Josh Ernest pun mempertanyakan sikap Cina yang membuntuti dengan tiga kapal perang hingga ke perairan internasional. Padahal patroli itu sudah mengantongi izin Gedung Putih.

"Operasi ini dilakukan agar negara-negara pantai tidak boleh membatasi hak navigasi, kebebasan dan penggunaan yang sah di laut, bahwa AS dan semua negara berhak untuk latihan di bawah hukum internasional," ungkap juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, dalam sebuah jumpa pers. (Reuters/Ndtv/Aljazeera)




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Evakuasi di Tembagapura, Warga Megaku Ditekan Aparat

  • Polisi, Tidak Ada Pemaksaan Evakuasi Untuk Warga Banti
  • PKB Belum Tetapkan Calon Pendamping Ridwan Kamil
  • Cekcok Kantor PLO, Palestina Ancam Putus Hubungan dengan AS

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau