KBR- Polisi hingga kini masih selidiki motif penyerangan terhadap akademi pelatihan polisi (Akpol) di Quetta, ibukota provinsi Baluchistan, Pakistan. Kejadian itu menewaskan 59 orang tewas dan 118 lainnya mengalami luka berat.

Sampai saat ini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, salah satu komandan senior di Baluchistan, Jenderal Sher Afgun menuduh serangan tersebut dilakukan oleh kelompok sektarian, Lashkar-e-Jhangvi.

"Belum jelas juga motif serangan kelompok ini ke markas pelatihan polisi," tambahnya.

Kelompok laskar E Jhangvi memiliki rekam jejak sering melakukan serangkaian penyerangan di wilayah Baluchistan, terutama terhadap kaum minoritas Hazara Shias.

Serangan di Akademi Kepolisian Balochistan terjadi pada pukul 23.10 malam yang berlangsung selama beberapa jam di asrama yang ditempati oleh 200 kadet tersebut. "Saya melihat tiga pria dalam penyamaran membawa Kalashnikov. Mereka mulai menembak dan masuk asrama tapi saya berhasil melarikan diri melewati dinding," kata seorang kadet kepada media.

Menteri dalam negeri provinsi Balochistan, Sarfaraz Bugti menyebutkan serangan yang dilakukan oleh lima hingga enam pria bersenjata tersebut sempat diwarnai aksi penyanderaan yang berlangsung selama lima jam saat para kadet sedang tertidur dan beristirahat di dalam asrama. Seperti dilansir Reuters, Selasa (25/10/2016).

"Mereka pertama menyasar prajurit penjaga menara pengawas, dan setelah terlibat baku tembak berhasil menewaskan petugas pengawas lalu masuk ke pekarangan akademi," ujarnya.

Editor: Dimas Rizky 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!