Ilustrasi. (Foto: agro.kemenperin.go.id)

KBR - Pada saat perdebatan mengenai nutrisi mengemuka di tahun 1960-an, seorang ahli nutrisi terkenal dari Universitas Harvard mempublikasikan dua penelitiannya di jurnal medis terkemuka. Publikasi itu mengecilkan peran gula dalam serangan penyakit jantung koroner.

Namun ternyata terungkap, penelitian itu ternyata diinisiasi dan dibiayai oleh kelompok industri gula. Industri gula besar ikut memeriksa naskah penelitian, dan bermaksud melindungi reputasi industri gula di mata publik.

Keterlibatan industri gula dalam penelitian ahli itu diungkapkan Dr Cristin Kearns, seorang peneliti asal Universitas California di San Francisco, dalam jurnal JAMA Internal Medicine.

Cristin melacak, menggali dan mengolah bukti-bukti dari dokumen yang ia temukan di Perpustakaan Harvard, mengenai jejak keterlibatan perusahaan gula dalam penelitian ilmiah. Dokumen itu kemudian dikenal sebagai "Sugar Papers".

Penelitian Cristin Kearns itu menyoroti kiprah dua orang ahli nutrisi terkenal dari Universitas Harvard, Dr Fredrick Stare dan Profesor Mark Hegsted---keduanya sudah meninggal---yang berhubungan dengan kelompok industri bernama Sugar Research Foundation sekitar tahun 1960-an. Mereka berusaha untuk mempengaruhi opini publik mengenai pengaruh gula terhadap kesehatan dan penyakit.

Sugar Research Foundation meminta agar Mark Hegsted---seorang profesor nutrisi dari Kedokteran Harvard menulis kajian literatur untuk meng-counter riset sebelumnya yang mengaitkan sukrosa (bentuk lain dari gula) dengan penyakit jantung koroner.

Saat itu, Yayasan itu memberi imbalan pada Hegsted, Fredrick Stare dan koleganya Robert McGandy dengan bayaran yang kalau dihitung sekarang senilai 48 ribu dolar AS atau sekitar Rp630 juta. Menurut Cristin Kearns, dua peneliti itu tidak pernah mengungkapkan sumber pendanaan penelitian mereka.

Selanjutnya, Mark Hegsted dan Fredrick Stare mengacak-acak kajian penelitian yang menyebut dampak gula pada kesehatan. Hasilnya, mereka menyimpulkan bahwa untuk mencegah penyakit jantung koroner, hanya ada satu modifikasi pola makan---mengubah asupan lemak dan kolesterol.

Kajian Hegsted dan Stare dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada 1967. Saat itu kajian peneliti di jurnal itu tidak mengharuskan adanya penelitian untuk menghindari konflik kepentingan.

Saat itu para peneliti masih berdebat menyebut apa yang menjadi 'tersangka' penyebab banyaknya kematian akibat jantung koroner, terutama pada pria---apakah gula atau lemak.

Mark Hegsted menggunakan hasil risetnya untuk mempengaruhi rekomendasi pola makan pemerintah.

Pada akhirnya, pada 1980-an, pemerintah federal Amerika Serikat mengeluarkan Panduan Pola Makan pertama yang merekomendasikan warga Amerika membatasi konsumsi lemak jenuh dan kolestrol. Warga Amerika juga disarankan untuk menghindari konsumsi gula terlalu banyak, tapi bukan karena soal gangguan kesehatan terkait pola makan.

Cristin Kearns menyebutkan dalam kajiannya, kalangan industri gula kemudian berencana meningkatkan market share mereka dengan meyakinkan warga Amerika untuk mengonsumsi makanan rendah lemak.

Sekitar 50 tahun kemudian, para ahli nutrisi ternyata menyebut gula juga menjadi faktor resiko penyakit jantung koroner. Walaupun itu belum menjadi kesepakatan bersama.

Kelompok industri gula menanggapi laporan tersebut dengan mengatakan, tidak tepat jika riset yang didanai oleh industri asal dikritik begitu saja.

"Kami mengakui bahwa semestinya Sugar Research Foundation mestinya lebih transparan dalam aktivitas risetnya," kata kelompok itu yang kini bernama Sugar Association. "Namun, tentu kami sulit berkomentar terhadap riset yang dilakukan 60 tahun lalu, apalagi dokumen itu tidak pernah kami lihat."

Kelompok industri gula tersebut mengatakan gula tidak punya peranan yang unik terkait dengan penyakit jantung.

Penelitian awal

Penelitian investigasi yang dilakukan Cristin Kearns itu menempatkannya sebagai 'musuh' bagi industri gula. Statnews.com, sebuah situs media kesehatan memberitakan, Cristin tidak mirip seorang pejuang yang melawan raksasa industri gula. Ia mungil, berbicara lembut dan kerap malu-malu ketika bicara.

Cristin sebelumnya adalah seorang dokter gigi. Ia sempat kaget ketika mengikuti konferensi ahli dokter gigi tahun 2007, seorang pembicara menyebutkan tidak ada yang pernah mengaitkan gula dengan penyakit kronis seperti diabetes.

Ia pun keluar dari pekerjaannya dan bekerja penuh mencari berkas-berkas yang bisa menunjukkan campur tangan industri gula terhadap kebijakan publik maupun di bidang ilmu pengetahuan.

Cristin kemudian menemukan bukti-bukti, bagaimana industri gula mempengaruhi program riset gigi negara bagian---dimana industri gula berusaha mendorong agar mencari cara lain mengatasi penyakit gigi seperti mencari vaksin untuk kerusakan gigi, dibandingkan dengan menjelaskan manfaat mengkonsumsi makanan rendah gula.

Pada 2011 ia menghabiskan waktu berhari-hari di perpustakaan Kedokteran Harvard mencari-cari dokumen dan surat-surat yang ditinggalkan ahli nutrisi Harvard, Mark Hegsted. Cristin kaget melihat bagaimana dekatnya Hegsted dengan industri gula. Cristin menemukan hubungan surat menyurat antara Hegsted dengan John Hickson, wakil presiden Sugar Research Foundation yang juga direktur riset yayasan itu.

Hickson meminta Hegsted membuat beberapa tulisan kajian yang bisa melawan tulisan lain yang bernada negatif tentang gula dalam perannya terhadap kesehatan.

Dr Walter Willett, yang cukup kenal dengan Mark Hegsted, membela koleganya itu sebagai seorang ilmuwan yang punya prinsip.

"Dia seorang keras kepala, orang yang selalu mendasarkan pada data, sudah terkenal berseberangan dengan kepentingan industri. Bahkan ia pernah kehilangan jabatan di Kementerian Pertanian Amerika karena berseberangan dengan industri sapi," begitu kata Walter Willett yang kini memimpin Departemen Nutrisi di Universitas Harvard.

"Saya sangat ragu dia bisa mengubah keyakinannya itu, atau terlibat dalam kegiatan yang didanai industri," kata Willet sebagaimana dikutip STATNews.
 
Terus berlanjut

Meski laporan itu merujuk pada kasus yang terjadi sekitar 50 tahun lalu, New York Times memberitakan, laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa industri makanan terus melakukan upaya campur tangan di bidang ilmu pengetahuan pangan.

Tahun lalu, New York Times memuat artikel yang menyebutkan Coca-Cola, perusahaan minuman ringan terbesar dunia, menyediakan dana jutaan dolar Amerika Serikat untuk mendanai riset yang bisa menunjukkan rendahnya peran minuman ringan terhadap obesitas.

Juni lalu, Associated Press memberitakan sejumlah perusahaan kembang gula atau permen yang tergabung dalam National Confectioners Association mendanai penelitian seorang profesor nutrisi dari Louisiana State University. Riset itu kemudian mengklaim anak-anak yang mengkonsumsi kembang gula cenderung memiliki berat badan lebih rendah dibanding yang tidak mengkonsumsi kembang gula. (STAT News/New York Times/Bloomberg)
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!