Bekas Presiden Israel Shimon Peres. (Foto: Chatham House/Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Dua pekan setelah terkena serangan stroke, bekas Presiden Israel Shimon Peres menghembuskan nafas terakhir, pada Rabu (28/9/2016) pagi waktu Israel.

Peres meninggal di usia 93 tahun. Ia menyusul istrinya, Sonia yang meninggal 2011 lalu.

Informasi dari media Israel, Channel 2 menyebutkan rencananya Shimon Peres akan dimakamkan pada Jumat mendatang. Sehari sebelum pemakaman, keluarga memberi kesempatan kepada publik Israel untuk memberikan penghormatan terakhir.

Keluarga Shimon Peres berencana memberikan keterangan pers pada Rabu sore atau malam di Sheba Medical Center.

Shimon Peres masuk perawatan di Sheba Medical Center karena stroke, dua pekan lalu. Kondisi kesehatannya dikabarkan serius namun stabil.

Dokter sempat secara berhati-hati menyatakan optimistis kesehatan Peres bakal membaik. Sejak mendapat penanganan medis, Peres menunjukkan tanda-tanda ia tidak kehilangan kemampuan kognitif dan motoriknya, meski mengalami stroke.

Meski begitu, beberapa hari lalu optimisme itu terus menipis. Pemindaian kesehatan menunjukkan adanya pembekuan darah yang menyebabkan pendarahan di otak. Bahkan dalam pemindaian kedua, pendarahan di otak sangat parah.

Awal 2016 ini Peres dua kali masuk rumah sakit karena gangguan hati, namun cepat pulih kembali.

Karir politik

Setelah berkarir politik puluhan tahun bersama Partai Buruh, ia merupakan salah satu tokoh paling senior di Israel. Ia pernah menjadi menteri perhubungan, menteri keuangan, dua kali menjadi menteri pertahanan, tiga kali menjadi menteri luar negeri, tiga kali menjadi perdana menteri Israel dan terakhir menjabat presiden Israel periode 2007-2014.

Sementara untuk jabatan wakil, ia juga berkali-kali menjabat sebagai wakil perdana menteri, maupun perdana menteri sementara.

Di periode ketiga menjabat perdana menteri, Peres kembali maju dalam pemilihan perdana menteri. Ia masih menggunakan kendaraan Partai Buruh. Lawannya adalah Benjamin Netanyahu dari Partai Likud. Namun, Peres kalah, meski jajak pendapat sebelumnya menunjukkan ia unggul.

Shimon Peres merupakan salah satu generasi terakhir politisi pendiri Israel saat negara itu terbentuk pada 1948. Ia juga menjadi politisi Israel yang paling lama melayani pemerintahan: 12 kali ganti pemerintahan.

Pada awal pendirian Israel, Shimon Peres sempat bergabung dengan Haganah, sebuah organisasi paramiliter yang merupakan cikal bakal pasukan Israel. Di organisasi ini ia bertanggung jawab dalam rekrutmen pasukan dan pengadaan senjata.

Tidak heran kemudian ia sempat dua kali menjadi menteri pertahanan Israel.

Tentang Palestina

Ia pernah menjadi anggota lembaga pemerintah yang menyetujui pembangunan permukiman warga Yahudi di lahan pendudukan Israel di Palestina.

Namun, pandangan politiknya terkait Palestina kemudian berubah: ia menginginkan perdamaian dengan Palestina. Ia terus melakukan berbagai upaya mencari perdamaian dengan negara-negara Arab lain.

Shimon Peres meraih hadiah Nobel Perdamaian pada 1994 atas kerjanya mendorong kesepakatan perdamaian antara pemimpin Palestina, Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel saat itu Yitzhak Rabin. Saat itu ia menjabat Menteri Luar Negeri Israel. Perjanjian itu dikenal sebagai Perjanjian Oslo 1993, dengan solusi dua negara: Israel dan Palestina.

"Apa yang kita raih hari ini lebih dari sekadar penandatanganan perjanjian: ini sebuah revolusi. Kemarin adalah mimpi, dan hari ini adalah komitmen," kata Peres.

Sayangnya, setahun setelah perjanjian damai, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin tewas dibunuh. Pembunuhnya adalah Yigal Amir, seorang kelompok radikal Israel yang menentang perdamaian dengan Palestina.

Pada tahun 1996, saat menjabat Presiden, ia mendirikan Institut Shimon Peres (The Peres Center for Peace) di Tel Aviv yang memiliki misi perdamaian dunia. Shimon Peres termasuk generasi politisi Israel yang menolak sikap keras apalagi perang menghadapi Palestina. Ia mendahulukan perundingan dan perdamaian.

Ia pernah mengatakan bahwa warga Palestina merupakan tetangga terdekat Israel bahkan bisa menjadi sahabat terdekat. Peres kerap menyuarakan perlunya perdamaian terkait dengan sengketa teritorial di area Palestina. Sikapnya ini membuat ia dekat dengan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, hingga Gus Dur pernah menjadi pengurus Institut Shimon Peres.

Pada 2013 ia pernah mengatakan, "tidak ada pilihan lain selain damai. Tidak ada yang masuk akan dalam perang".

"Jika Anda punya anak, Anda tidak mungkin terus memberi makan mereka dengan bendera dan peluru untuk makan siang. Anda butuh hal lain yang lebih penting. Kecuali Anda mendidik anak Anda, meminimalkan konflik, kecuali Anda mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan industri, maka Anda tidak akan punya masa depan," kata Peres. (Haaretz/BBC/Jerusalem Post)
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!