Ilustrasi. Pentingnya pemeriksaan kesehatan jantung, terutama saat menopause. (Foto: bumn.go.id)

KBR - Perempuan yang mengalami menopause dini diyakini memiliki resiko lebih besar terkena gangguan penyakit jantung, yang---jika tidak ditangani dengan baik---bisa menyebabkan kematian prematur.

Menopause adalah berhentinya siklus menstruasi atau tidak adanya menstruasi pada perempuan selama 12 bulan, yang merupakan kondisi normal berkaitan dengan tingkat lanjut usia seseorang, dan bukan penyakit atau gangguan medis.

Penelitian didasarkan pada kajian para ahli Belanda terhadap 33 penelitian yang diterbitkan sejak 1990-an. Puluhan hasil penelitian itu melibatkan 300 ribu perempuan.

Para peneliti membandingkan perempuan berusia di bawah 45 tahun yang sudah mengalami menopause serta perempuan di atas 45 tahun atau yang memulai menopause di atas usia 45 tahun.

Hasilnya, perempuan yang sudah menopause berusia di bawah 45 tahun mengalami resiko jantung 50 persen lebih besar dibandingkan yang usia di atas 45 tahun.

Para peneliti juga menyimpulkan menopause dini bisa meningkatkan resiko kematian akibat penyakit kardiovasklar (penyakit yang melibatkan jantung dan pembuluh darah) serta karena penyebab lain. Namun, belum ada indikasi pengaruh menopause dini terhadap serangan stroke.

Meski begitu, para peneliti mengatakan kajian itu hanya menyimpulkan adanya asosiasi atau kaitan antara menopause dan serangan jantung---dan tidak menyimpulkan adanya hubungan sebab akibat.

Hasil kajian itu telah dipublikasikan di situs Jurnal JAMA Cardiology, pada 14 September lalu. Kajian itu didanai dan disponsori Metagenics, sebuah perusahaan suplemen nutrisi.

"Temuan ini menyarankan agar perempuan yang mengalami menopause dini agar ikut dalam kelompok atau sasaran kegiatan pencegahan serangan penyakit kardiovaskular secara proaktif," kata peneliti Taulant Muka, dari Erasmus University Medical Center di Rotterdam, Belanda.

Bagi perempuan dengan menopause dini atau prematur, penanganan kemungkinan bisa dilakukan melalui terapi hormon.

Penggunaan hormon estrogen pada perempuan dalam jangka waktu lama sebetulnya bisa juga berkaitan dengan resiko kanker dan stroke. Banyak ahli memperkirakan resikonya lebih besar dari manfaatnya.

Taulant Muka mengatakan hasil kajian mereka menyimpulkan bahwa masa-masa menopause merupakan periode kritis untuk mengevaluasi kesehatan perempuan mengenai bagaimana kondisi kardivaskular di masa-masa mendatang.

"Ini (masa menopause) mungkin juga waktu yang tepat untuk melakukan intervensi tambahan guna mengurangi resiko," kata Muka. Sering melakukan tes tekanan darah, kolesterol, gula darah hingga faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi kesehatan jantung.

Perempuan di dunia Barat umumnya mengalami menopause pada usia 51 tahun. Meski begitu, dari kajian para peneliti Belanda itu, satu diantara 10 perempuan mengalami menopause secara alami di usia 45.

Selain itu juga ada penyebab menopause dini karena faktor luar, seperti karena penanganan kanker atau pengangkatan sel kanker melalui operasi.

Mengenai penyakit kardiovaskular, peneliti itu menyebutkan, satu dari tiga perempuan di dunia meninggal karena penyakit tersebut. Dan untuk alasan yang belum begitu jelas penyebabnya, resiko kardiovaskular meningkat di usia-usia menopause.

"Kami belum begitu jelas, apakah sistem reproduksi mempengaruhi kesehatan kardiovaskular, atau sebaliknya, penyakit kardiovaskular mempengaruhi ovarium," kata salah satu penulis penelitian, Teresa Woodruff. Teresa merupakan anggota tim riset di bidang obstetrik dan ginekologi dari Universitas Northwestern di Chicago. (Fox News/New York Times/Reuters) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!