Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. (Foto: Istana Presiden Rusia/Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Presiden Palestina Mahmoud Abbas disebut-sebut pernah menjadi agen atau mata-mata lembaga intelijen Rusia, KGB.

Media-media Israel ramai memberitakan isu ini sejak Rabu (7/9/2016) malam, berdasarkan dokumen yang katanya berasal dari Rusia di era Uni Soviet. Pemberitaan itu lantas menyulut ketegangan, dan menuai bantahan serta kemarahan dari pejabat Palestina.

Media di Israel mengutip pernyataan Gideon Remez, salah satu peneliti Truman Institute di Hebrew University di Yerusalem. Gideon, yang sejatinya seorang jurnalis, meneliti bersama temannya Isabelle Ginor.

Nama Mahmoud Abbas tidak tertera gamblang di dokumen itu. Di dokumen itu tercantum nama-nama agen mata-mata KGB di era Sovyet sejak 1983. Di antara nama itu tertulis dua baris yang mengidentifikasikan Abbas dengan kode 'Mole' dan 'Agen KGB'.

"Saya pikir ini penting kita baca sekarang dalam konteks upaya Rusia merancang pertemuan antara Abbas dan Netanyahu, terutama mengingat masa lalu Abbas yang pernah bergabung di KGB bersama Putin," kata Gideon Remez.

Gideon Remez kemudian mengungkapkan dokumen itu ke siaran media Israel, Channel 1 News. Channel 1 News lantas menyiarkannya, menjelang rencana pertemuan perdamaian antara Presiden Mahmoud Abbas dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Moskow, Rusia, 9 September 2016.

Saat diwawancara Radio Israel, Gideon Remez mengaku tidak punya hubungan dengan pemerintah Israel, atau menerima pesanan dari pemerintahan Netanyahu. Ia bahkan mengatakan, KGB pun punya agen di pemerintahan Israel sejak 1972.

Presiden Rusia Vladimir Putin pernah menjadi agen KGB di era Sovyet. Di akhir era Sovyet, Putin berpangkat letnan kolonel. Pekan ini Putin bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem. Ia berusaha merancang pertemuan baru antara Presiden Mahmoud Abbas dengan PM Benjamin Netanyahu. Dua orang pemimpin ini masih berselisih dan belum bertemu langsung.

Para pejabat Palestina menyangkal laporan bahwa Presiden Abbas pernah terlibat hubungan dengan badan intelijen Soviet KGB. Anggota Komite Pusat Partai Fatah pimpinan Mahmoud Abbas, Mohammed al-Madani menyebut pemberitaan media Israel itu merupakan sikap keterlaluan untuk merendahkan dan melemahkan Abbas, ketika Abbas sedang berusaha mencari dukungan di dalam dan luar negeri.

"Ini jelas ada tren untuk berusaha merusak Abu Mazen oleh berbagai pihak, termasuk dari Israel," kata Al-Madani kepada koran Israel Haaretz. "Ini salah satu upaya lain untuk memfitnah Abu Mazen."

Abu Mazen adalah sebutan bagi Mahmoud Abbas.

Gal Berger dari Radio Israel mengatakan, pejabat Palestina tertawa mendengar laporan itu.

Pejabat Palestina beralasan tidak ada perlunya Abbas menjadi agen KGB, karena pada era Sovyet, Organisasi Pembebasan Palestina PLO secara terbuka sudah bekerja sama dengan Moskow. Pejabat Palestina mengatakan, Mahmoud Abbas memimpin peletakan dasar-dasar kemitraan antara Palestina dan Sovyet. Karena itu, Abbas secara de facto menjadi penghubung Palestina dengan Moskow.

Media New York Times memberitakan dokumen itu telah diserahkan bekas juru arsip KGB Vasily Mitrokhin kepada lembaga intelijen Inggris. Kini dokumen itu disimpan di Churchill Archives Center di Universitas Cambridge dan sudah dibuka untuk umum sejak dua tahun lalu.

Peneliti Israel, Gideon Remez dan Isabelle Ginor menyebutkan mereka menemukan nama Mahmoud Abbas di dokumen itu saat meneliti keterlibatan Rusia di konflik Timur Tengah.

Dalam dokumen itu Mahmoud Abbas disebutkan lahir 1935 di Palestina dan menjadi agen di Damaskus, Suriah. Abbas disebut memiliki panggilan 'Krotov', nama lain dari mole (tikus mondok). Menurut dokumen itu, pada saat pembentukan negara Israel tahun 1948, keluarga Abbas pergi ke Damaskus.

Tidak ada keterangan lain tentang Abbas dalam dokumen itu. Tidak ada keterangan kapan dan bagaimana Abbas direkrut, apa yang dilakukan, berapa lama menjadi agen dan apakah dia dibayar oleh KGB.

Namun, media Israel Channel 1 News memberitakan, ketika Mahmoud Abbas sedang mengerjakan disertasi untuk meraih gelar Ph.D di Universitas Patrice Lumumba di Moskow, ia direkrut sebagai agen KGB dan ditugaskan di Damaskus.

Gideon Remez tidak menyebutkan alasan lain mengapa ia membuka informasi itu saat ini. "Saya tidak bermaksud melemahkan Tuan Abbas. Saya mendukung dialog (Israel) dengan Palestina---tapi tidak karena bantuan Rusia yang tidak boleh dipercaya," kata Remez. "Karena itu kami pikir ini saatnya temuan ini kami sampaikan ke publik," lanjut Remez.  (New York Times/New York Post/Jewish Press) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!