Wapres JK: Dunia Campuri Urusan Timteng & Suriah, ISIS Bakal Makin Subur

Jusuf Kalla mengatakan negara Timur Tengah yang dilanda konflik internal dan dicampuri tangan asing umumnya jadi hancur. Negara yang hancur itu menjadi bibit tumbuhnya gerakan ekstrimis.

Rabu, 30 Sep 2015 12:31 WIB

Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: www.bnpt.go.id)

KBR, New York - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerukan dunia berhenti ikut campur dalam urusan dalam negeri Timur Tengah.

Menurut Jusuf Kalla, intervensi dunia luar justru akan menghancurkan negara-negara di sana dan menyuburkan Negara Islam Irak Suriah (ISIS).

Pernyataan itu disampaikan Jusuf Kalla menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) kontra Terorisme di Markas Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.

Kalla mengatakan negara Timur Tengah yang dilanda konflik internal dan dicampuri tangan asing umumnya jadi hancur. Negara yang hancur itu menjadi bibit tumbuhnya gerakan ekstrimis.

"Karena negara gagal, pihak-pihak yang dulu berkonflik kemudian mendapat ideologi, tidak mendapat perhatian, dan negara itu kehilangan kepemimpinan dan srukturnya. Maka timbullah ekstrimisme itu," kata Jusuf Kalla, Selasa (29/9/2015) pagi waktu setempat, sebagaimana dilaporkan Reporter Rio Tuasikal dari New York.

"Umumnya negara gagal itu akibat intervensi dari negara luar. Maka penyelesaian sesuatu jangan lewat intervensi militer pihak ketiga. Apapun tujuannya-termasuk menegakkan demokrasi negara itu dengan cara tidak demokratis," pungkasnya.

Kalla menambahkan, kekuatan perang dan dana yang besar tidak bisa menyelesaikan ekstrimisme. Kata dia, dunia harus berperan menjaga kestabilan ekonomi dan politik negara-negara Timteng. Bila masyarakatnya aman dan sejahtera, bibit ekstrimisme takkan tumbuh.

Perjuangan melawan ISIS dan kelompok ekstremis lainnya, menjadi pusat perhatian para pemimpin dunia di Sidang Umum PBB di New York. Presiden AS Barack Obama, selaku tuan rumah KTT Kontra Teroris, mencari dukungan negara-negara anggota PBB guna melawan ISIS dan aksi ekstremis yang disertai kekerasan.

KTT ini diselenggarakan sehari setelah Obama beradu pandangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, terkait solusi krisis Suriah. Obama berpandangan solusi Suriah harus mencakup turunnya Presiden Suriah Bashar Al-Assad. Sedangkan Putin berkeras mengikutsertakan Assad dalam koalisi internasional untuk melawan ISIS.

Konflik Suriah sudah menyeret sejumlah negara lain ke dalamnya. Rusia dan Iran, mendukung pemerintah Al-Assad yang beraliran Alawiyah. Sementara Turki, Arab Saudi dan Qatar mendukung oposisi yang mayoritas Sunni, bersama dengan AS, Inggris dan Prancis.

Dalam KTT Kontra Teroris, posisi Indonesia adalah bahwa ekstremis di suatu negara tidak bisa dilawan dengan intervensi militer negara lain.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Menko Wiranto Bakal Tangkap Tentara OPM

  • Kapolri, Evakuasi Di Papua Ajang Bersih-Bersi Pendulang Liar
  • Nazaruddin Sebut Setnov Terima Duit e-KTP
  • Puluhan Calon PPS di Rembang Terindikasi Anggota Parpol