Seorang anak pengungsi Suriah menangis di kamp pengungsi Al Zaatri di Mafraq, Yordania, dekat perbatasan Suriah, Jumat (3/8)/ANTARA FOTO.

KBR, Jakarta - Lembaga anak-anak PBB, UNICEF menyebut lebih dari 8850 sekolah di enam negara dan negara bagian di Timur Tengah yang terlibat konflik tak lagi digunakan. Akibatnya, lebih dari 13 juta anak tidak mendapatkan hak mengenyam pendidikan dan terancam putus sekolah.

PBB menyebut kondisi ini sebagai pupusnya harapan generasi masa depan di Timur Tengah. Menurut catatan lembaga ini, ribuan sekolah tak lagi bisa digunakan untuk kegiatan belajar lantaran ada di tengah kekerasan.

Laporan itu merinci, beberapa kasus guru dan siswa yang harus berlindung di bawah tembakan senjata, kelas dijadikan tempat perlindungan bom dan anak-anak harus menempuh perjalanan melintasi medan perang untuk mengikuti ujian sekolah.

Kepala Regional UNICEF di Timur Tenga, Peter Salama mengatakan, dampak perusakan dari konflik dirasakan anak-anak di seluruh kawasan di Timur Tengah. Bukan hanya kerusakan fisik, kata dia, tapi juga keputusasaan anak-anak akan masa depan mereka.

Tahun lalu, UNICEF mecatat sebanyak 214 serangan terhadap sekolah di Suriah, Irak, Libya, Palestina, Sudan dan Yaman. Di Suriah, PBB menyebut pendidikan harus dibayar dengan harga mahal di tengah perang sipil yang sudah berkecamuk selama lebih dari empat tahun. Lebih dari 52 ribu guru di Timur Tengah juga telah menanggalkan jabatan mereka, yang semakin membuat dunia pendidikan di zona konflik semakin terpuruk. (ChannelnewsAsia)


Editor : Sasmito Madrim

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!