Kurs Peso Argentina Turun, Pemerintah Naikkan Suku Bunga 60 Persen

Nilai tukar mata uang Argentina hari itu merosot melebihi 15 persen hanya dengan hitungan menit, dan terakhir merosot sampai ke rekor terendah 39,2 persen.

Jumat, 31 Agus 2018 09:29 WIB

Seorang pria memasuki tempat penukaran uang di Buenos Aires, Argentina Kamis 30 Agustus 2018. Bank Sentral Argentina pada hari Kamis menaikkan suku bunga acuan menjadi 60 persen - tertinggi di dunia - dalam upaya untuk menghentikan penurunan tajam dalam n

KBR - Bank sentral Argentina meningkatkan suku bunga sebesar 15 basis poin, menjadi 60 persen untuk menghentikan jatuhnya kurs peso. Angka tersebut merupakan nilai tertinggi di dunia. Dilansir dari Associated Press, selain untuk menaikkan nilai tukar mata uang, langkah drastis tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mencegah potensi terjadinya inflasi. 

Dilansir CNBC, tahun ini, nilai tukar peso turun hingga lebih dari 45 persen terhadap dolar, dan memperburuk ketakutan yang sudah ada sebelumnya atas melemahnya ekonomi negara. Sementara itu, tingkat inflasi Argentina berada pada angka 25,4 persen tahun ini. 

"Saya pikir pengumuman kenaikan suku bunga saat ini tidak akan merubah apa-apa selain membuat investor lebih gelisah," kata Monica de Bolle, pejabat senior di Peterson Institute for International Economics. 

Merosotnya nilai tukar peso beberapa hari belakangan, mulai membuat pasar keuangan Argentina panik. Pada pembukaan perdagangan Kamis (30/8/2018) kemarin, kurs peso terus menurun. Nilai tukar mata uang Argentina hari itu merosot melebihi 15 persen hanya dengan hitungan menit, dan terakhir merosot sampai ke rekor terendah 39,2 persen, seperti dilansir Associated Press. Penurunan tersebut membuat nilai tukarnya mencapai 41 peso per 1 dollar Amerika Serikat. 

Untuk meredakan kepanikan pasar, Presiden Argentina Mauricio Macri mengumumkan kesepakatan dengan International Monetary Fund (IMF) untuk mempercepat pencairan pinjaman sebesar U$ 50 miliar.

"Kami telah melihat tanda baru kurangnya keyakinan pasar, khususnya atas kapasitas pembiayaan kami pada 2019," kata Macri dalam pidato yang diposting ke Facebook Rabu (29/8/2018), seperti dikutip dari National Public Radio (NPR).

Namun, pernyataan tersebut justru meningkatkan ketakutan masyarakat atas kemampuan Argentina untuk membayar hutang. Kondisi buruk itu bisa jadi berakar dari apa yang terjadi di kota tempat IMF berada, Washington DC. Saat ini, Amerika Serikat sedang dalam kondisi ekonomi yang kuat. 

"Karena ekonomi AS menguat, yang memiliki efek riak di pasar negara berkembang di seluruh dunia. Banyak dari negara-negara ini telah meminjam sedikit dari pasar internasional, apalagi ketika kurs dolar murah," kata ekonom global Eswar Prasad dari Cornell University kepada NPR awal bulan ini.

Banyaknya pihak yang tidak menyetujui kebijakan perjanjian dengan IMF disebabkan karena pengalaman buruk akan kebijakan pasar bebas. Kebijakan tersebut mengakibatkan krisis ekonomi di tahun 2001-2001, yang menyebabkan terjadinya pengangguran.

"Pemerintah akan perlu merombak kabinetnya dan melakukan kesepakatan dengan gubernur provinsi untuk anggaran tahun depan," kata ekonom Argentina Marcos Buscaglia, dikutip dari Associated Press.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".