Foto udara menunjukkan Pulau Pagasa (Harapan), salah satu pulau di Kepulauan Spratly yang menjadi perselisihan sejumlah negara di sekitar Laut China Selatan. Foto: Antara/Reuters)

KBR-  Vietnam diam-diam membentengi beberapa pulau sengketa di wilayah Laut Cina Selatan dengan peluncur roket.

Sejumlah diplomat dan pejabat militer memberikan pernyataan pada Reuters bahwa informasi intelijen menunjukkan Hanoi telah mengirimkan peluncur roket tersebut ke lima titik di kepulauan Spratly dalam beberapa bulan terakhir. Langkah tersebut dinilai dapat memicu ketegangan dengan Beijing.

Kementerian Luar Negeri Vietnam menampik hal itu dengan mengatakan informasi tersebut tidak akurat. Wakil Menteri Pertahanan Vietnam, Nguyen Chi Vinh, sebelumnya telah mengatakan pada Reuters bahwa Hanoi tidak memiliki peluncur roket atau senjata yang dipersiapkan di kepulauan Spratly, namun memiliki hak untuk melakukan tindakan semacamnya.

“Ini merupakan hak kami yang sah untuk dapat membela diri dengan menyiapkan senjata di titik manapun yang termasuk wilayah kedaulatan kami,” jelas Nguyen.

Keterangan dari tiga sumber yang diperoleh Reuters menyebut peluncur roket itu ditempatkan di tempat tersembunyi dari pengawasan udara dan diyakini belum dipersenjatai. Meski begitu sejumlah peluncur itu dapat dioperasikan dengan artileri roket dalam waktu dua atau tiga hari. 

Ini dilakukan dalam rangka berjaga-jaga melawan Cina yang tengah melakukan proses pembangunan di tujuh pulau reklamasi, di kepulauan Spratly. Militer Vietnam cemas akan pembangunan landasan pacu, radar, serta instalasi militer Cina lainnya yang dapat membuat pertahanan wilayah Vietnam selatan dan kepulauan di sana rentan.

Para pakar militer menilai menyebarkan roket merupakan langkah defensif paling signifikan yang dilakukan Vietnam atas klaimnya di Laut China Selatan dalam beberapa dekade terakhir.

Sebelumnya, China telah memberikan pernyataan atas kepemilikan mereka terhadap kepulauan Spratly. “Cina meiliki kedaulatan yang tak terbantahkan atas pulau-pulau Spratly dan daerah perairan di sekitarnya,” jelas Kementerian Luar Negeri Cina dalam sebuah pernyataan. (Reuters/Channel News Asia)

Editor: Malika

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!