Rodrigo Duterte saat sedang berkampanye (Foto: telegraph.co.uk)

Rodrigo Duterte saat sedang berkampanye (Foto: telegraph.co.uk)

Lebih dari 300 kelompok kemasyarakatan di Filipina menyerukan PBB untuk segera mengecam pembunuhan terhadap lebih dari 700 terduga pengguna dan pengedar narkoba yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan warga. 

“Kami meminta UNODC (organisasi PPB untuk urusan narkotika dan kriminal) segera menyatakan kecaman tindakan semena-mena tersebut. Pembuhunan keji tersebut tidak bisa dibenarkan sebagai tindakan untuk mengontrol penggunaan narkoba,” kata Ann Fordham, Direktur Eksekutif International Drug Policy Consortium (IDPC).

Selain IDPC, Human Rights Watch, Stop Aids dan International HIV/Aids Alliance juga ikut menandatangani surat yang ditujukan kepada International Narcotics Control Board (INCB) dan the UN Office on Drugs and Crime (UNODC) itu.

Pembunuhan tersebut mulai terjadi sejak Rodrigo Duterte terpilih sebagai Presiden Filipina, pada 10 Mei 2016. Di hari pelantikan, Duarte berjanji akan memberangus penggunaan narkoba. Ia bahkan memperbolehkan pengguna dan pengedar narkoba untuk dibunuh. 

“Kalau Anda tahu ada pengguna narkoba, silakan bunuh mereka. Karena jika meminta orangtua mereka untuk melakukan itu, itu akan sangat menyakitkan,” kata Duterte. 

Sementara itu senator senior Filipina, Leila de Lima, menyerukan penyelidikan pembunuhan tersebut. Kata dia, perang melawan narkoba tidak boleh dilakukan dengan darah.

“Kita hanya akan mengganti kecanduan terhadap narkoba dengan kecanduan lain yang lebih mengerikan: keinginan untuk melakukan lebih banyak pembunuhan,” kata de Lima. Ia menambahkan, polisi saat ini menggunakan kampanye antinarkoba sebagai alasan untuk membunuh orang-orang tak bersalah. 

Pekan lalu, Dewan Warga untuk HAM menuduh Duterte dan jajarannya melawan hukum dan HAM dalam perang melawan narkoba. Kepolisian Filipina bahkan telah mengubah daerah miskin Filipina menjadi ‘zona bebas tembak’. 

Jennelys Olaires, istri Michael Siaron, supir becak yang jadi korban pembunuhan, memastikan suaminya hanya pecandu, bukan pengedar narkoba. “Suami saya bahkan memilih Duterte di Pemilu 9 Mei lalu,” kata Jennelyn. 

Para korban

Bulan lalu, 8 orang (termasuk perempuan) terduga berkaitan dengan narkoba ditembak mati oleh polisi saat penyergapan jelang subuh di Matalam, sekira 900 km utara Manila. Sementara itu, pada hari yang sama, polisi Manila menemukan mayat laki-laki dengan kepala terbungkus selotip dan dadanya tertutup karton bertuliskan “I am A Pusher” (Saya Pengedar Narkoba).

Pembuhan demi pembunuhan atas nama perang melawan narkoba yang dilakukan polisi dan warga yang main hakim sendiri tersebut didorong janji pemberian impunitas oleh Duterte. 

Phelim Kine, Deputi Direktur Asia Human Rights Watch mengatakan tindakan Duterte tidak bisa diterima sebagai upaya penegakan hukum. Ini lebih dilihat sebagai kegagalan negara dalam melindungi hak azasi yang paling dasar, hak untuk hidup, kesehatan, prosen hukum dan peradilan yang seadil-adilnya.

Jenis narkoba yang paling banyak digunakan di Filipina adalah sabu-sabu dan ganja. Berdasarkan data Badan Anti-Narkotika Filipina (Philippine Drug Enforcement Agency) tahun 2014, 89% dari total narkoba yang disita merupkan ganja sedangkan ganja sebanyak 8.9%. Sedangkan jumlah pengguna narkoba di Filipina diperkirakan mencapai 1,3 juta orang. (theguardian, boomlive.in)

Editor: Citra Dyah Prastuti

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!