KBR, Jakarta - Situs mesin pencari terbesar Google sedang disoroti dunia karena menghapus nama Palestina dari Google Maps dan menggantinya dengan Israel. Dalam pernyataan yang dirilis Middle East Monitor, Forum Wartawan Palestina (Palestinian Journalist Forum/PJF) mengecam keputusan Google untuk menghapus nama Palestina dari peta.

Dalam rilis yang dikeluarkan akhir pekan lalu, PJF menuding, "itu adalah upaya membangun Israel sebagai negara yang sah untuk generasi yang akan datang dan menghapuskan Palestina selamanya".

"Langkah ini juga dirancang untuk memalsukan sejarah, geografi serta hak rakyat Palestina di tanah air mereka, dan usaha yang gagal untuk  mengutak-atik dengan memori Palestina dan Arab serta dunia," demikian bunyi pernyataan PJF lebih lanjut.

PJF mendesak Google segera memulihkan peta Palestina.  Hingga saat ini, tidak ada tulisan Palestina di Google Maps. Ketika Anda mengetik  kata kunci "Palestina", Google Maps mengarahkan Anda ke Yerusalem dan Gaza.

Penghapusan Palestina dari Google Maps sebetulnya sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Hal ini menimbulkan prokontra di kalangan para pengguna internet dan pengguna Google.

Sikap Google yang menghapus nama Palestina itu memunculkan banyak protes dari para pengguna Internet atau netizen.

Sejak lima bulan lalu, seorang nettizen asal Inggris Zak Martin membuat petisi di situs Change.Org. Petisi itu berjudul "Google: Masukkan Palestina di Petamu!'.

Zak Martin yang merupakan penulis di perusahaan penerbitan Harper-Collins itu menyebutkan Google menganggap Palestina tidak ada di dunia ini. Hal ini dianggap sebagai penghinaan bagi warga Palestina dan menyepelekan upaya jutaan orang yang mendukung kemerdekaan Palestina dari pendudukan ilegal Israel.

Hingga kini petisi itu mendapat dukungan tanda tangan 166 ribu orang.

Palestina kehilangan sebagian besar wilayahnya yang berada di antara Mesir, Suriah dan Arab Saudi. Pada saat perang Arab dan Israel 1948, Israel menguasai sekitar 26 persen wilayah Palestina. Hingga kemudian perang yang berlarut-larut membuat banyak warga Palestina eksodus pada 1948 dan Israel leluasa mencaplok sedikit demi sedikit wilayah Palestina. Peta Palestina kembali berubah pada 1949 hingga terjadinya Perang Enam Hari tahun 1967, dimana Israel memulai pendudukan wilayah Palestina, dan memisahkan Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Pada 29 November 2012, Perserikatan Bangsa-bangsa PBB mengakui Palestina sebagai negara pemantau non-anggota PBB. Beribu kota di Ramallah, Palestina saat ini dipimpin Mahmoud Abbas.

Pengakuan itu membuat Palestina berhak ikut hadir di Sidang Umum PBB. Posisi ini juga membuka kesempatan bagi Palestina ikut bergabung dalam badan-badan resmi PBB termasuk Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC).

Namun Palestina belum menjadi negara dengan keanggotaan penuh di PBB, karena mendapat penolakan Israel dan sekutunya termasuk Amerika Serikat.

Editor: Malika 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!