Mulai Terkena Kabut Asap, Malaysia Tawarkan Bantuan ke Indonesia

Pemerintah Malaysia menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk menangani kebakaran hutan dan untuk mencegah bencana kabut asap.

Jumat, 26 Agus 2016 13:41 WIB

Ilustrasi kabut asap di Singapura. Foto: Skylan Kao Creative Commons

KBR - Pemerintah Malaysia menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk menangani kebakaran hutan dan untuk mencegah bencana kabut asap. Tawaran itu disampaikan Deputi Perdana Menteri Malaysia Shahidan Kassim.

Shahidan menawarkan bantuan berupa dua pesawat pengangkut air yang mampu mengangkut angkut enam ribu liter air dalam waktu 12 detik. Shahidan mengatakan, pesawat itu siap dikirim ke Jakarta jika ada permintaan bantuan resmi dari Indonesia. Namun sampai saat ini belum ada permintaan itu.

Penawaran Malaysia itu disampaikan menyusul mulai banyaknya titik panas yang terdeteksi di lahan di Sumatera dan Kalimantan.

Pada tahun lalu, kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan memicu krisis bencana kabut asap yang berdampak ke negara tetangga Malaysia dan Singapura. Pemerintah Malaysia tahun lalu juga mengirim pesawat pengangkut air untuk operasi pemadaman kebakaran hutan di Sumatera.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Malaysia Datu Seri Wan Junaidi Tuanku Jaafar mengatakan, bencana kabut asap tahun ini di Malaysia kemungkinan lebih ringan dibanding tahun lalu.

Berdasarkan Indeks Pencemaran Udara, pekan ini sebanyak 27 lokasi di Malaysia dinyatakan dalam kondisi kualitas udara bersih, sedangkan lima wilayah dalam kondisi kabut asap moderat.

"Pemerintah Indonesia sudah memenuhi janjinya yang disampaikan pada pertemuan Konferensi Para Pihak ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution ke-12 pada 11 Agustus lalu. Pemerintah Indonesia sudah bertindak cepat dengan mengirim pasukan dan pesawat pemadam kebakaran," kata Wan Junaidi.

Ia berharap kondisi saat ini bisa bertahan atau menjadi lebih baik menjelang Oktober, dimana arah angin akan berubah.

Sementara itu di Singapura, kualitas udara sudah mulai mengarah 'tidak sehat' karena kabut asap kiriman dari Indonesia.

Indeks Pencemaran Udara di Singapura menunjukkan peningkatan tingkat pencemaran udara, hingga mencapai level 128---melewati ambang batas 100. (CNA/Bloomberg)

Baca juga:
KLHK Perkirakan Status Siaga Darurat Karhutla Hingga November
Karhutla, Walhi: 3 Perusahaan Pernah Mendapat SP3 Kasus Illegal Logging
SP3 Karhutla Riau, Evaluasi Mabes: Layak Dihentikan




Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.