McDonald’s Didesak Hentikan Penggunaan Ayam dengan Antibiotik secara Global

Ada 30 ribu gerai McDonald's di seluruh dunia.

Jumat, 12 Agus 2016 08:42 WIB

Sajian dari McDonald's masih mengandung antibiotik (Foto: NPR)

Sajian dari McDonald's masih mengandung antibiotik (Foto: NPR)

KBR - Sebuah kampanye daring (online) dilancarkan untuk mendesak McDonald’s melarang semua gerai di berbagai belahan dunia menggunakan produk yang berasal dari hewan yang memakai antibiotik. Hewan itu mulai dari ayam, sapi, babi serta produk susu.

Antibiotik biasanya dipakai untuk mendorong pertumbuhan serta mencegah penyakit di peternakan. Para peneliti mengingatkan penggunaan antibiotik pada hewan akan meningkatkan resistensi terhadap obat.

Kampanye online ini didorong oleh Share Action, sebuah lembaga kemanusiaan yang mendorong perilaku industri yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

Share Action meminta para konsumen---terutama konsumen McD---mengirim email kepada petinggi McDonald’s, Steve Easterbrook, soal hal ini.

Menurut Share Action, lebih dari 70 persen dari seluruh antibiotik di Amerika Serikat diberikan kepada hewan.

Pekan lalu, McDonald’s menghentikan penggunaan ayam yang diberi antibiotik, tapi itu hanya berlaku di restoran Amerika Serikat. Padahal saat ini ada 30 ribu gerai McDonald’s tersebar di seluruh dunia.

McDonald’s mengaku masih terlalu dini menetapkan tenggat waktu penghentian penggunaan hewan dengan antibiotik untuk seluruh produk daging dan susu.

Sebelumnya, KFC lebih dulu menjadi sasaran petisi dari kelompok konsumen dengan desakan yang sama. Menanggapi desakan itu KFC memastikan bakal mulai membatasi penggunaan ayam dengan antibiotik mulai tahun depan.

Sementara gerai makanan ayam siap saji lainnya, Wendy’s, berjanji berhenti memakai ayam dengan antibiotik pada 2017 mendatang. Rencana selanjutnya akan diatur untuk penghentian penggunaan antibiotik di produk dari babi dan sapi.  

Bahaya Antibiotik

Penelitian dari Universitas Princenton di New Jersey AS menyebutkan penggunaan antibiotik pada hewan bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia, termasuk juga kepada lingkungan dan tentunya kepada hewan di peternakan itu sendiri.

Ayam di peternakan biasanya diberi antibiotik untuk mendorong pertumbuhan mereka. Antibiotik juga diberikan karena ruang hidup mereka yang terbatas dan tidak sehat. Dalam kondisi alami, lingkungan hidup mereka jauh lebih sehat dan tidak butuh antibiotik.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan akan memicu bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Antibiotik yang diberikan kepada hewan mirip dengan antibiotik untuk manusia. Karena itulah, memakan hewan dengan antibiotik akan memperbesar kemungkinan ada antibiotik berlebihan pada tubuh manusia.

Penggunaan antibiotik ini juga berbahaya bagi lingkungan. Kotoran hewan dari peternakan ini mengandung antibiotik yang tidak dicerna serta mengandung bakteri yang resisten terhadap antibiotik dalam jumlah yang cukup signifikan.

Bakteri-bakteri itu bisa mencemari air tanah, permukaan tanah, ekosistem dan pada akhirnya kembali berbahaya bagi manusia. (Reuters, BBC, Princenton.edu)

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.