Ilustrasi (Foto: VOA)

KBR- Udara Rio de Janeiro, Brasil ternyata lebih kotor dan mematikan dibandingkan dengan laporan yang dirilis oleh pemerintah setempat dan panitia Olimpiade yang disampaikan ke publik.

Selama bertahun-tahun polutan yang dikeluarkan ke udara oleh kendaraan yang memenuhi jalanan Rio, sudah melebihi ambang batas bahaya yang diterapkan organisasi kesehatan dunia (WHO). Ribuan orang meninggal di kota yang berpenduduk 12 juta orang karena kualitas udara yang buruk tersebut. Orang yang terpapar polusi udara lebih beresiko terkena kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, asma dan penyakit lainnya.  

"Ini bukan udara yang cocok untuk gelaran Olimpiade," kata Paulo Saldiv, ahli patologi Universitas Sao Paulo dan anggota komite WHO yang ikut menetapkan standar polusi global pada 2006.  

"Banyak orang menaruh perhatian pada pemcemaran air di Rio, tapi lebih banyak orang mati karena polusi udara dari pada pencemaran air," katanya. "Anda tidak disarankan untuk meminum air dari Teluk Guanabara tapi anda pasti menghirup udara Rio."

Saluran air di Rio menarik perhatian publik karena banyak warga terserang penyakit gastronomi. Itu terjadi lantaran buruknya penanganan limbah. Baru-baru ini Reuters melaporkan, beberapa lokasi perairan yang menjadi tempat penyelenggaraan Olimpiade dan pantai wisata, positif mengandung bakteri yang kebal antibiotik, “super bacteria”. Bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan, kencing, pencernaan, dan darah hingga meningitis.

Sementara itu, menurut lembaga lingkungan hidup kota Rio de Janeiro, Inea, sejak 2008, polusi udara Rio 2 hingga 3 kali melebihi ambang batas bahaya PM 10 yang ditetapkan WHO. Dua pertiga dari polusi itu disebabkan oleh asap knalpot 2,7 juta kendaraan yang memenuhi jalanan di sana. Artinya, kualitas udara itu menjadi yang terburuk di antara penyelenggara Olimpiade lainnya sejak akhir tahun 80-an. Sayangnya, tidak ada yang menyinggung soal polusi udara tersebut.

Sebelumnya, Brasil mengklaim kualitas udara Rio masih berada dalam ambang batas yang direkomendasika WHO. "Kualitas udara tidak bisa hanya dinilai dari jumlah PM saja, dan polutan lain seperti nitrogen dioksiga dan sulfur dioksida di Rio masih berada di bawah ambang batas versi WHO," kata Tania Braga, dari panitia pelaksana Olimpiade Rio. (reuters dan independent.co.uk)

Editor: Dimas Rizky 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!