Gaun "Pelangi" Raksasa Warnai EuroPride 2016

Gaun itu dibuat dari sekitar 72 bendera negara-negara yang menganggap homoseksualitas sebagai tindakan ilegal bahkan kriminal.

Rabu, 10 Agus 2016 12:11 WIB

Gaun pelangi dipamerkan model Valentijn de Hingh. (Foto: Instagram/Valentijn de Hingh)

KBR, Jakarta - Dua perancang busana dan seniman membuat gaun unik berukuran raksasa yang menampilkan warna-warna pelangi.

Gaun itu dibuat dari sekitar 72 bendera negara-negara yang menganggap homoseksualitas sebagai tindakan ilegal bahkan kriminal. Bahkan, 12 negara diantaranya menerapkan hukuman mati bagi kaum gay.

Gaun itu dirancang Mattijs van Bergen dan seniman Oeri van Woezik, bekerjasama dengan COC sebuah organisasi LGBT di Belanda.

Seorang trans-model, Valentijn de Hingh kemudian mengenakan gaun pelangi raksasa itu dalam sesi pemotretan.

De Hingh berdiri di depan lukisan The Night Watch karya Rembrandt di Museum Het Rijksmuseum.

Ini merupakan persembahan gaun untuk menyemarakkan EuroPride 2016. EuroPride merupakan even internasional di Amsterdam Belanda, yang didedikasikan untuk kaum LGBT di seluruh dunia. EuroPride diselenggarakan tiap tahun secara bergantian dengan tuan rumah negara-negara Eropa.

Gaun indah itu tak sekadar indah dan gaya, namun menyiratkan perjuangan melawan diskriminasi terhadap LGBT.

Kampanye anti-diskriminasi LGBT dunia ini digambarkan lewat bendera pelangi. Bahkan "pelangi" juga mewarnai laman jejaring medsos terbesar dunia Facebook sebagai bentuk dukungan tersebut.

Sang trans model, De Hingh mengunggah fotonya itu lewat akun instagramnya. "Semoga gaun itu menggambarkan perjuangan pelangi (atas LGBT), lebih cepat lebih baik," tulis De Hingh.

De Hinh menjajaki dunia modelling sejak 2008. Ia merupakan duta transgender pertama untuk EuroPride. Ia juga menjadi model transgender pertama yang dikontrak oleh agen model ternama, European IMG.

Diskriminasi

Kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) masih kerap didiskriminasi. Sekitar dua bulan lalu, pengadilan Tiongkok menolak tuntutan diskriminasi gender pertama oleh seorang transgender. Transgender itu mengeluh dipecat dari pekerjaan karena identitasnya.

Berdasarkan survey Badan Pembangunan PBB (UNDP) pada Mei 2016 lalu, di Tiongkok sebanyak 95 persen kaum lesbian, gay, minoritas seksual dan gender terpaksa menyembunyikan orientasi seksual karena khawatir menghadapi diskriminasi dan gangguan sosial.

Sementara di Indonesia, diskriminasi terhadap LGBT terbaru muncul dengan pernyataan Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi M Nasir yang melarang LGBT masuk kampus. (Sumber: Cosmopolitan UK, Pride.amsterdam/Epoa.eu) 

Editor: Agus Luqman

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Sampaikan Pledoi, Andi Narogong: Saya Salah Dan Minta Maaf Kepada Seluruh Rakyat Indonesia

  • Penyuap Panitera PN Jaksel Dituntut 3 Tahun Penjara
  • Presiden Jokowi Bahas Industri Pertahanan dan Kesejahteraan Prajurit dengan Panglima TNI
  • Menteri Pendidikan: Ada Ketidaksengajaan Sebut Yerusalem Ibu Kota Israel

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi