Mamut terakhir yang tinggal di Pulau St Island. (Foto: BBC)

Mamut terakhir yang tinggal di Pulau St Island. (Foto: BBC)

KBR – Para ilmuwan percaya bahwa sekelompok mamut berbulu (wooly mammoth) terakhir yang pernah diketahui mati lantaran kurang air minum. Iklim makin hangat, akibatnya danau makin dangkal. Padahal danau itu adalah sumber air minum para mamut.

Sebagian besar spesies mamut berbulu ini punah 10,500 tahun yang lalu. Namun kelompok mamut berbulu yang tinggal di lepas perairan Alaska ini punah 5,600 tahun lalu. Para ilmuwan percaya kalau perburuan manusia dan perubahan lingkungan punya peran besar dalam punahnya makhluk yang ada sejak Zaman Es ini.

Meski begitu, ada juga satu kelompok mamut yang tinggal di Pulau St Island di Laut Bering berhasil hidup lebih lama sampai 5000 tahun berikutnya.

Seiring dengan bumi makin hangat setelah Zaman Es, permukaan laut naik sehingga habitat mamut ini semakin kecil. Banyak danau yang hilang karena permukaan laut naik, sementara air asin membanjiri sumber air tawar yang tersisa, sehingga akhirnya para mamut kehilangan sumber air bersih mereka.

“Danau yang makin kering membuat para mamut berkumpul di dekat lubang-lubang mata air. Mamut harus berkeliaran, sehingga vegetasi yang ada pun jadi hancur. Ini bisa seperti yang terjadi pada gajah-gajah yang hidup di era sekarang,” kata Profesor Russell Graham, penulis senior dari Pennsylvania State University.

Tapi para mamut juga ikut menyumbang percepatan kepunahan mereka sendiri. “Erosi sedimen banyak yang  masuk ke dalam danau. Akibatnya, danau makin dangkal dan air bersih makin sedikit,” kata Graham.

Jika saat itu tidak ada salju yang mencair atau hujan yang turun, maka danau akan tetap kering dan binatang-binatang ini mati lebih cepat. Ini terjadi karena kebutuhan minum mamut yang sangat besar. Gajah yang hidup di zaman sekarang membutuhkan 70-200 liter air setiap hari. “Kami berasumsi, mamut punya kebutuhan yang sama,” kata Graham.

Pemanasan iklim yang terjadi saat ini, membuat sejumlah peneliti khawatir akan dampaknya pada pulau-pulau kecil, yaitu ancaman terhadap air bersih bagi binatang dan manusia.

Penelitian ini dianggap bisa menggambarkan apa yang terjadi pada kepunahan binatang-binatang prasejarah.

“Ini juga menyoroti betapa rapuhnya populasi kecil pada perubahan yang terjadi di alam,” kata Love Dalen profesor genetika evolusi di Swedish Museum of Natural History.

Mamut terakhir yang punah adalah mamuth yang tinggal di Pulau Wrangel, di Laut Antartika. (bbc)

Editor: Citra Dyah Prastuti  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!