Ilustrasi (Foto: AFP)

Ilustrasi (Foto: AFP)

KBR - Australia mengeluarkan pembaruan informasi perjalanan dan mendesak warganya untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk saat bepergian ke Singapura. Ini menyusul kekhawatiran penyebaran virus Zika di negara itu.


Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia di situsnya menyebut para wisatawan yang berkunjung ke negara itu harus mengambil langkah-langkah tambahan yang disarankan oleh otoritas kesehatan. 


Imbauan itu juga menyatakan perempuan yang sedang hamil untuk menunda perjalanan yang tidak penting dan menghindari kehamilan selama dua bulan setelah pulang dari Singapura.


Langkah yang sama juga dikeluarkan Pemerintah Inggris. Mereka mengimbau perempuan hamil atau berencana untuk hamil, membahas rencana perjalanan mereka dengan dokter sebelum bepergian ke Singapura.


Selain Australia dan Inggris, Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan menaikkan tingkat peringatan perjalanan untuk Singapura ke Level 2 untuk virus Zika pada hari Senin (29/8/2016). Pemerintah menyarankan perempuan hamil untuk tidak melakukan perjalanan ke negara-kota itu. Sementara wisawatan lainnya diminta untuk mengambil tindakan pencegahan terhadap gigitan nyamuk.


Sementara itu, Malaysia, yang berbatasan dengan Singapura, juga sudah mengumumkan peningkatan tindakan pencegahan seperti pemindaian suhu tubuh untuk mendeteksi demam pada titik-titik masuk utama di negara bagian Johor dan berbagai bandara. 


Menurut catatan Departemen Imigrasi Malaysia hampir 300 ribu orang melewati bea cukai perbatasan Johor-Singapura setiap hari.


Kementerian Kesehatan Singapura mengkonfimasi 15 kasus virus Zika penyebaran lokal baru pada hari Senin (29/8/2016), sehingga total yang terkena dampak adalah 56 orang.


Virus Zika ditularkan nyamuk Aedes dan dikaitkan dengan efek lahir langka, microcephaly pada bayi yang ibunya menderita virus Zika saat hamil. Microcephaly adalah cacat lahir yang ditandai dengan ukuran kepala kecil dan terganggunya perkembangan otak.


Gejala tertular virus ini meliputi demam, ruam kulit, mata merah, nyeri otot dan sendi, dan sakit kepala. Saat ini tidak ada obat atau vaksin untuk mencegah infeksi Zika dan perawatan difokuskan untuk menghilangkan gejala. (cnbc,channelnewsasia) 


Editor: Citra Dyah Prastuti 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!