Bjorn Lomborg, Direktur Copenhagen Consensus Center ketika berada di Jakarta untuk Seminar untuk Jurnalis yang diselenggarakan KBR, Rabu (25/3/2015).

KBR, Jakarta - Lembaga think tank Copenhagen Consensus Center mendorong pemerintah menggenjot program “Keluarga Berencana” ketika menjalankan Sustainable Development Goals (SDGs) mulai akhir tahun ini.

Direktur lembaga ini, Bjorn Lomborg, mengatakan reproduki adalah masalah utama bagi perempuan dan anak. “Merencanakan kehamilan berarti mengurangi angka kematian saat melahirkan dan angka kematian bayi,” jelasnya.

CCC menghitung, memastikan akses perempuan terhadap kesehatan reproduksi akan memberi manfaat Rp120 dari setiap Rp1 yang dikucurkan. “Karena itu menggelontorkan dana untuk program keluarga berencana adalah investasi yang bagus,” pungkas Bjorn lagi.

Di samping keluarga berencana, Indonesia juga perlu menghentikan perkawinan anak yang masih terjadi di Indonesia. Dari 6 anak di Indonesia ada 1 yang menikah sebelum 18 tahun, Badan PBB untuk anak UNICEF mencatat.

Selain itu, Mahkamah Konstitusi Juni lalu menolak menaikkan batas usia perkawinan anak perempuan ke 18 tahun.

“Perkawinan usia dini meletakkan anak pada risiko kehamilan dan melahirkan yang terlalu tinggi. Rentan terhadap kekerasan fisik,” ujar Annisa Elok Budiani, HIV/AIDS & Adolescent Development Officer UNICEF Indonesia kepada KBR.

Perkawinan usia dini menyebabkan berpengaruh terhadap tingginya angka anak putus sekolah, kematian ibu dan bayi, kemiskinan, dan kekerasan seksual. “Jadi hak anak atas pendidikan dan pemenuhan potensi mereka tidak terpenuhi,” ujar Annisa lagi.

Ketika menjalankan agenda Millenium Development Goals (MDGs) kemarin, Indonesia gagal mengurangi angka kematian ibu. “Penyebabnya multifaktor. Misalnya pengambilan keputusan saat ibu dirujuk ke rumah sakit, kemudian sistem transportasi di daerah yang sulit untuk mencapai fasilitas kesehatan,” jelas Arum Atmawikarta, Sekretaris Eksekutif Sekretariat MDGs Nasional.

Memilih Program Paling Efektif

SDGs akan diadopsi seluruh dunia akhir 2015 ini menggantikan Millenium Development Goals (MDGs). Target-target SDGs akan resmi diumumkan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, September nanti.

Saat ini isinya masih dinegosiasikan dengan jumlah sementara 17 tujuan dan 169 target – mulai dari mengurangi kemiskinan, melestarikan lingkungan, dan meningkatkan partisipasi sekolah. Angka ini meroket dari agenda MDGs kemarin yang hanya punya 8 tujuan dan 18 target.

“Dari  169 target, ada yang brilian. Sebagian lumayan. Sebagian lagi sebaiknya tidak dilakukan karena efeknya terlalu kecil,” jelas Bjorn.

Ada total 2,5 triliun dollar Amerika Serikat yang siap digelontorkan untuk SDGs. CCC menghitung, bila dunia bersikukuh dengan 169 target, dunia akan buang-buang uang. Jika 2,5 triliun dibagi rata ke dalam seluruh target, masing-masing hanya dapat  7 dollar. Jika target dikurangi sampai 40 saja, masing-masing dapat 21 dollar – efeknya lebih besar tiga kali lipat.

Dalam program untuk perempuan, kesehatan reproduksi adalah salah satu program paling efektif. “Mari gunakan uang dengan bijak,” ungkap Bjorn lagi.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!