Bjorn Lomborg, Direktur Copenhagen Consensus Center ketika berada di Jakarta untuk Seminar untuk Jurnalis yang diselenggarakan KBR, Rabu (25/3/2015).

KBR, Jakarta - Lembaga think tank Copenhagen Consensus Center mengatakan jumlah target Sustainable Development Goals (SDGs) perlu dikurangi sebelum pemerintah berniat menggandeng swasta.

“Perusahaan akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Mereka harus tahu mana program yang benar-benar akan efektif,” ujar Bjorn Lomborg, direktur lembaga tersebut, kepada KBR.

SDGs akan diadopsi seluruh dunia akhir 2015 ini menggantikan Millenium Development Goals (MDGs). Target-target SDGs akan resmi diumumkan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, September ini. Saat ini isinya masih dinegosiasikan dengan jumlah sementara 17 tujuan dan 169 target – mulai dari mengurangi kemiskinan, melestarikan lingkungan, dan meningkatkan partisipasi sekolah. Angka ini meroket dari agenda MDGs kemarin yang hanya punya 8 tujuan dan 18 target.

“Dari  169 target, ada yang brilian. Sebagian lumayan. Sebagian lagi sebaiknya tidak dilakukan karena efeknya terlalu kecil,” jelas Bjorn.


Ada total 2,5 triliun dollar Amerika Serikat yang siap digelontorkan untuk SDGs. CCC menghitung, bila dunia bersikukuh dengan 169 target, dunia akan buang-buang uang. Jika 2,5 triliun dibagi rata ke dalam seluruh target, masing-masing hanya dapat  7 dollar. Jika target dikurangi sampai 40 saja, masing-masing dapat 21 dollar – efek lebih besar tiga kali lipatnya. “Mari gunakan uang dengan bijak,” ungkap Bjorn lagi.

Dunia Usaha Minta Penjelasan

Sementara itu, dunia usaha meminta pemerintah mulai menjelaskan isi agenda SDGs sebelum terlibat di dalamnya.

“Perusahaan bisa mengidentifikasi goals mana yang cocok, lalu bekerjasama dengan pemerintah,” ujar Semerdanta Pusaka, Coutry Director Indonesia SR Asia, dalam KBR Pagi, Senin (23/7/2015) pagi. SR Asia adalah jejaring Asia yang mendorong tanggung jawab sosial (CSR) untuk pembangunan berkelanjutan.

“Pemerintah harus menerjemahkan target SDGs dari bahasa yang sangat prinsipil sampai ke bawah, sampai ke praktek sehari-hari,” katanya dan menambahkan, database yang akurat juga diperlukan agar dunia usaha bisa memilih dengan mudah.

Selama ini banyak perusahaan melaksanakan CSR yang sejalan dengan MDGs kemarin, hanya saja tidak terkoordinasi dengan baik. “Banyak perusahaan sudah menghitung jejak karbon,” jelas Danta, panggilan akrabnya.

Arum Atmawikarta, Sekretaris Eksekutif Sekretariat MDGs Nasional, mengatakan peran dunia usaha sangat diperlukan dalam melaksanakan SDGs yang akan datang. “Dulu MDGs lebih banyak pemerintah yang bergerak. Sekarang SDGs agak berbeda prinsipnya,” jelas Arum dalam kesempatan yang sama.

Sekretariat MDGs Indonesia mencatat, untuk agenda MSGs kemarin, Indonesia gagal di beberapa target. Dari total 63 indikator, ada 13 yang sudah tercapai, 35 akan dicapai, dan 13 yang dipastikan gagal. Indonesia berhasil meningkatkan angka sekolah tapi gagal mengurangi angka kematian ibu.

Kata Arum, ketika jumlah tujuan SDGs masih tinggi di angka 169, kehadiran dunia usaha bisa banyak membantu. “Peranan stakeholder lain, dunia usaha, filantrofis, organisasi masyarakat, dan masyarakat umum memang akan semakin penting,” jelas Arum.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!