Suriah Akui Kekurangan Tentara untuk Hadapi Pemberontak

Kelompok yang diperangi oleh militer Suriah mendapat bantuan dari negara-negara asing yang jumlahnya meningkat.

Senin, 27 Jul 2015 09:11 WIB

KBR - Militer Suriah terpaksa membiarkan sejumlah wilayah jatuh ke tangan pemberontak dalam perang sipil karena kekurangan tentara. Pengakuan itu disampaikan oleh Presiden Bashar al-Assad dalam pidato yang disiarkan oleh televisi Suriah. 

Ia menegaskan, militer mampu menjalankan fungsinya tetapi tidak bisa mempertahankan seluruh wilayah karena kekurangan tentara, sementara kelompok-kelompok yang diperangi oleh militer Suriah mendapat bantuan dari negara-negara asing yang jumlahnya meningkat. Presiden Suriah menambahkan, militer dapat mempertahankan wilayah-wilayah penting seperti Damaskus, kota Homs dan Hama serta wilayah pesisir. 

Sejak Maret, militer Suriah menelan kekalahan di beberapa wilayah, termasuk Provinsi Idlib, sebagian wilayah perbatasan dengan Yordania dan kota Palmyra. Di antara pemberontak yang diperangi adalah kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS. Lebih dari 80.000 tentara dan milisi pemerintah tewas sejak konflik pecah pada Maret 2011. (BBC) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Arsul Sani: KPK Jangan Bernafsu Tangani Korupsi Swasta

  • BPBD Lebak: Gempa Hantam 9 Kecamatan
  • Jerat Hari Budiawan, Warga Tumpang Pitu Protes Putusan Hakim
  • Gunakan GBK, Persija Naikan Tiket Pertandingan Piala AFC

Padahal para pekerja di kedua jenis industri ini kerap dituntut bekerja melebihi jam kerja dan juga kreativitas yang tak terbatas.