Chungking Mansion, di kawasan Tsim Sha Tsui, Hong Kong sangat populer untuk tempat akomodasi bagi para turis bermodal tipis atau backpakers. (Foto: Chensiyuan/Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Hong Kong menjadi kota dengan biaya hidup paling mahal bagi ekspatriat atau pekerja warga negara asing pada tahun 2016 ini.

Hal itu berdasarkan Survei Biaya Hidup Global 2016, yang dirilis Rabu (22/6/2016). Survei dilakukan oleh Mercer, sebuah lembaga konsultan berbasis di New York Amerika Serikat, dan penyedia data dan informasi internasional di bidang sumber daya manusia.

Hong Kong menyalip kota Luanda di Angola dari posisi kota dengan biaya hidup termahal bagi ekspatriat.

Kota Luanda (Angola) berada di urutan kedua, disusul Zurich (Swiss), Singapura, Tokyo (Jepang), Kinshasa (Kongo), Shanghai (Cina), Jenewa (Swiss), Ndjamena (Chad) dan Beijing (Cina) di urutan 10.

Survei dilakukan untuk 375 kota di seluruh dunia. Di Indonesia, survei dilakukan untuk kota Jakarta dan Surabaya.

Survei menggunakan 200 item kriteria, mulai dari perumahan, transportasi, makanan, pakaian, kebutuhan rumah tangga dan hiburan. Lembaga Mercer menggunakan kota New York sebagai perbandingan biaya hidup dalam dolar Amerika Serikat.

Sebagai gambaran, menurut survei Mercer, tinggal di Hong Kong minimal menghabiskan biaya Rp90 juta per bulan untuk sewa flat atau apartemen dengan dua kamar tidur. Belum lagi biaya BBM kendaraan mencapai Rp23 ribu per liter.

Menikmati secangkir kopi di Hong Kong juga harus dengan menebus Rp103 ribu. Itu jauh lebih mahal dengan secangkir kopi di New York seharga Rp30,400 per cangkir.

Di kawasan Asia, peringkat kota-kota di Cina sebagai kawasan berbiaya hidup mahal merosot. Kecuali kota Shenzhen, yang naik dari tahun sebelumnya. Sementara untuk Jepang, meningkatnya nilai tukar yen terhadap dolar membuat kota-kota di Jepang ikut naik dalam peringkat kota termahal.

Sementara itu di Australia, melemahnya mata uang dolar Australia terhadap dolar AS menyebabkan kota-kota di negara itu turun dari daftar survei. Brisbaen merosot 33 peringkat menuju ke peringkat 96, dan Canberra merosot ke posisi 98 (turun 33 tingkat). Sementara itu Sydney sebagai kota termahal di Australia turun 11 peringkat ke posisi 42.

Sementara itu kota-kota yang masuk kategori 'biaya hidup termurah' dalam survei versi Mercer antara lain Lusaka (Zambia), Gaborone (Botswana), Karachi (Pakistan), Tunis (Tunisia), Minsk (Belarusk), Johannesburg (Afrika Selatan), Blantyre (Malawi), Bishkek (Kirgizstan), Cape Town (Afrika Selatan) dan di urutan terbuncit dan termurah adalah biaya hidup di Windhoek (Namibia). Tentu termurah dibandingkan dengan nilai tukar dolar AS. (Mercer.com/CNA/The Standard) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!